Bangun Cetak Biru Industri Mode Indonesia

Wedding collection of Tex Saverio. Photo by SI/Astra Bonardo

Wedding collection of Tex Saverio. Photo by SI/Astra Bonardo

Indonesia pusat mode global di tahun 2025 bukan lagi wacana, melainkan sebuah target yang semakin mantap diwujudkan. Indonesia Fashion Week (IFW) 2013 adalah kendaraan menuju kesana. 

Sedari awal, tujuan diadakannya Indonesia Fashion Week yang dirilis pada Februari 2012 adalah sebagai etalase yang bisa menunjukkan kepada dunia potensi besar industri mode Indonesia. Tapi tidak hanya itu, IFW juga punya beban berat untuk dipanggul, yakni sebagai kendaraan guna menjalankan cita-cita besar, Indonesia sebagai kapital mode dunia, sejajar dengan New York, London, Milan dan Paris.

IFW sendiri dicanangkan oleh salah satu organisasi mode besar di Indonesia, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) yang didukung empat kementrian, yakni Kementrian Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), serta Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

“Sebagai asosiasi, kami melihat bahwa Indonesia belum punya ‘the real fashion week’ yang tidak hanya mempertunjukkan acuan tren terbaru, tapi juga punya pameran dagang tersendiri yang menonjolkan sisi business to business,” terang Direktur Indonesia Fashion Week Dina Midiani, saat berbincang dengan beberapa media di butik Lenny Agustin di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

“Selama ini, jikapun ada, pameran dagang di sebuah perhelatan fashion lebih mengarah ke perdagangan ritel, yang kurang bisa mendorong bisnis mode secara luas,” papar Dina. Selain itu, Dina juga menambahkan secara branding, Indonesia pun masih belum punya nama di dunia internasional. “Padahal potensinya ada, tapi belum digarap secara maksimal,” katanya.

Disitulah IFW memfokuskan diri. Menjadi sebuah pekan mode dengan platform internasional, dimana kedepannya IFW bisa menjadi tempat buyer-buyer mancanegara berbelanja, mencari produk-produk potensial untuk dijual di negaranya, sekaligus memperkenalkan referensi tren mode versi pelaku mode Indonesia. IFW juga merupakan pekan mode pertama yang mengombinasikan fashion show dengan pameran dagang produk fashion, seminar edukatif, talkshow juga kompetisi bagi entrepreneur fashion. Tapi, sebuah cita-cita besar seperti itu tentu tidak bisa langsung terwujud. Butuh perencanaan dan strategi yang digodok matang, dan terlebih butuh pelaku yang komitmen untuk terus menjalankannya.

“Karena itu dibutuhkan roadmap, dibutuhkan blueprint atau cetak biru untuk membangun mode menjadi sebuah industri,” tegas Dina.

Kabar baiknya, sinergi kerjasama antara pelaku mode dan pemerintah sudah semakin erat terjalin. Bahkan kini mode punya “rumah” sendiri di Kemenparekraf. “Sebelumnya kita cuma ngekos-ngekos di berbagai kementrian. Kini kita sudah punya rumah sendiri sehingga masa depan industri mode ini bisa lebih cerah,” tutur Dina.

Berbicara mengenai potensi industri mode, data dari Kemenparekraf menunjukkan bahwa dari 15 bidang ekonomi kreatif yang diurusi kementrian, fashion menjadi salah satu kontributor terbesar dengan nilai sumbangan pendapatan sebesar Rp71,98 triliun di bidang ekspor pada 2010. “Subsektor fashion selalu menjadi kontributor tertinggi pada nilai ekspor industri kreatif sejak 2002 hingga 2010,” kata Direktur Desain dan Arsitektur pada Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK Kemenparekraf Poppy Savitri.

Apalagi didukung dengan semakin banyaknya event-event mode berskala internasional seperti IFW. Malah, kendati masih menyasar pasar domestik IFW 2012 lalu justru sukses menggaet buyer dan peserta asing untuk ikut bergabung di IFW 2013 yang akan diselenggarakan pada 14 Februari mendatang di Jakarta Convention Center.

“Tahun ini ada sekitar 10 negara yang akan ikut berpartisipasi di pameran dagang dan ada juga yang ikut show,” kata Dina, sembari menunjukkan beberapa negara yang akan ikut serta adalah Jepang, Thailand, Malaysia, Italia dan Australia. “Tentu saja ini menjadi kabar gembira bagi kami karena awalnya kami masih menargetkan pasar domestik hingga tahun 2015 nanti,” sambungnya. Tapi, bergabungnya beberapa negara tersebut menjadikan IFW 2013 harus mempercepat langkah. “Kami menjadikan 2013 ini sebagai langkah awal menuju dunia internasional,” tegas Dina.

Untuk itu, panitia IFW 2013 sudah mengkurasi sekitar 100 pelaku mode yang dipersiapkan menerima pesanan buyer internasional. “Jangan sampai buyer datang kemudian kecewa, karena itu kami ingin menjadikan tahun ini sebagai transisi IFW dari business to consumer (b2c) menjadi business to business (b2b),” kata desainer yang sudah berpengalaman di dunia mode selama hampir dua dekade tersebut.

Dina sendiri melihat kehadiran peserta asing di IFW lebih sebagai peningkat kompetensi dan semangat bersaing para peserta domestik. “Adanya peserta asing ini mengancam pasar domestik dan pelaku mode lokal harus bisa mempertahankan pasar mereka, jadi saya pikir ini hal yang bagus dari segi kompetensi dan peningkatan kualitas,” paparnya.

Adapun IFW 2013 yang mengambil tema “Inspiring Indonesia” akan diikuti 503 peserta, dengan 208 desainer yang terlibat di 16 fashion show, dimana sebanyak 2342 busana akan dipamerkan. Untuk pameran, tahun ini IFW menghadirkan tiga zona baru yakni starting point untuk mereka yang ingin menjual ide, concept point bagi mereka yang sudah siap dengan konsep fashion secara keseluruhan dan green point untuk pembelajaran industri fashion yang lebih ramah lingkungan. (*)

-Published in Seputar Indonesia, Jan, 21st, 2013

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s