Stay…

Tulisan ini adalah “curhatan” masa lalu. Dan malam ini, saya ingin mengenang masa lalu itu dengan kembali mengunggahnya. Menghidupkan sedikit nostalgia dan kembali mengucap maaf untuk seseorang, yang kini sudah berbahagia. Ah semoga kita semua berbahagia….

Jakarta, 2009. 

 

“Tinggallah..malam ini saja”

Aku menuliskan kata-kata itu dengan sejuta harap kata ya akan menjadi balasannya. Tapi layar komputer tetap membisu. Tidak ada kedip dan bunyi familiar yang menandakan adanya pesan baru. Tapi, aku tak melepas harapku. Masih terus menatap layar, hingga mataku berair. Entah bagaimana, aku tahu, lelaki itu tengah menimbang banyak hal.

Siapa aku? Siapa dia?

Bukan siapa-siapa. Kami hanyalah dua angka dalam statistik kependudukan kota, apalagi di kota sebesar Jakarta. Kendati hanya deretan angka, kami berdua terikat. Dulu, ada cerita diantara kami, ada harap, ada cemas, ada tangis, ada kesal, dan mungkin ada cinta. Sekarang, kami..hanyalah kami. Dia punya cerita baru dan aku tetap duduk disini, menatap layar yang masih membisu.

Tiba-tiba..

Bip

Aku tersentak. Segera kutaruh kopi di atas nakas, terburu-buru kutekan keyboardku, agar layar memunculkan jawab yang kunanti.

 

Aku : Tinggallah..malam ini saja

-last message 23.25-

Dia : …

Dia : maaf

 

Yah..aku tahu. Dia punya kewajiban lain, dan malam ini, mungkin bersama wanitanya. Aku hanya termangu menatap layar. Aku sudah menduga jawaban itu. Tapi entah mengapa, perih itu kini terasa menyelusup jauh lebih dalam.

 

Aku : kalau begitu, kenapa tidak bilang selamat tinggal?

Aku : kenapa kita tidak sudahi saja semua ini?

Aku : kenapa kamu masih disini?

 

Dia kembali diam. Aku gemas. Kuambil ponselku. Kutekan sederet angka lalu menunggu dering demi dering sebelum suara akrab yang selalu mengirimkan gelenyar di perutku menjawab dengan suara ragu.

 

“Kenapa telepon?” katanya?

“Karena kamu plin-plan dan aku benci itu!”

“Tapi kamu masih meladeniku”

“AAAH…tidak usah membalikkan keadaan, jawab sekarang!”

“Kamu tahu…aku tidak bisa..”

“HAH! kamu egois! kamu ingin aku selalu ada, tapi kamu mengusirku di saat bersamaan!”

“Bukankah kamu yang membuat keadaan kita jadi begini?”

“Apa? kenapa kamu kembalikan semua ini lagi ke aku?!”

“Kalau dulu jawabanmu ya, ini semua tidak akan terjadi”

 

Mendadak aku terdiam dan menutup telepon.

Tapi, meskipun waktu diputar kembali. Jawabanku masih tetap sama. Ah…kepalaku berat.

Mungkin tidur bisa menyembuhkan semua luka.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Stay…

  1. Kita tidak bisa memperbaiki masa lalu, pun jika kembali ke masa lalu dan memberikan jawaban yang sama, hasilnya tetaplah sama.

    Hanya saja kita bisa membenahi masa sekarang, kurasa, itulah yang layak diupayakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s