Ditampar Ikan

Rasanya seperti tertusuk sembilu
Perih.
Sampai ke ulu hati.

Air mata sontak merebak.

Logika sudah menduga sejak awal
pahit datang menjemput
bahagia hanya sesaat
derita tersisa

Kini hati terserak
sayap cinta mengepak patah
bahagia menggelepar liar
asa nyaris menyerah

Terasa asam
manis entah hilang kemana

Ah dimana putih..
semua hitam
dinding menyempit mengurung
udara pengap sesak
gelap.

Sekali lagi, sepotong jiwa terenggut,
MATI.

Panah

Berterimakasih pada asap
yang menyelimuti desah
menemani rindu yang lelah

Jika tak ada lagi celah,
apakah itu berarti kalah?

Ah..pipiku basah
Dimana kau wahai sang pemanah?
Yang membuat hatiku resah gelisah

Katakan padaku
bahagia belum punah,
cinta masih tegar melangkah
dan kita belum sejarah.

Words…and how we fall for them..

I want to see you.

Know your voice.

Recognize you when you
first come ’round the corner.

Sense your scent when I come
into a room you’ve just left.

Know the lift of your heel,
the glide of your foot.

Become familiar with the way
you purse your lips
then let them part,
just the slightest bit,
when I lean in to your space
and kiss you.

I want to know the joy
of how you whisper
“more”

-Rumi-

Bangun Cetak Biru Industri Mode Indonesia

Wedding collection of Tex Saverio. Photo by SI/Astra Bonardo

Wedding collection of Tex Saverio. Photo by SI/Astra Bonardo

Indonesia pusat mode global di tahun 2025 bukan lagi wacana, melainkan sebuah target yang semakin mantap diwujudkan. Indonesia Fashion Week (IFW) 2013 adalah kendaraan menuju kesana. 

Sedari awal, tujuan diadakannya Indonesia Fashion Week yang dirilis pada Februari 2012 adalah sebagai etalase yang bisa menunjukkan kepada dunia potensi besar industri mode Indonesia. Tapi tidak hanya itu, IFW juga punya beban berat untuk dipanggul, yakni sebagai kendaraan guna menjalankan cita-cita besar, Indonesia sebagai kapital mode dunia, sejajar dengan New York, London, Milan dan Paris.

Continue reading

Stay…

Tulisan ini adalah “curhatan” masa lalu. Dan malam ini, saya ingin mengenang masa lalu itu dengan kembali mengunggahnya. Menghidupkan sedikit nostalgia dan kembali mengucap maaf untuk seseorang, yang kini sudah berbahagia. Ah semoga kita semua berbahagia….

Jakarta, 2009. 

 

“Tinggallah..malam ini saja”

Aku menuliskan kata-kata itu dengan sejuta harap kata ya akan menjadi balasannya. Tapi layar komputer tetap membisu. Tidak ada kedip dan bunyi familiar yang menandakan adanya pesan baru. Tapi, aku tak melepas harapku. Masih terus menatap layar, hingga mataku berair. Entah bagaimana, aku tahu, lelaki itu tengah menimbang banyak hal.

Siapa aku? Siapa dia?

Bukan siapa-siapa. Kami hanyalah dua angka dalam statistik kependudukan kota, apalagi di kota sebesar Jakarta. Kendati hanya deretan angka, kami berdua terikat. Dulu, ada cerita diantara kami, ada harap, ada cemas, ada tangis, ada kesal, dan mungkin ada cinta. Sekarang, kami..hanyalah kami. Dia punya cerita baru dan aku tetap duduk disini, menatap layar yang masih membisu.

Tiba-tiba..

Bip

Aku tersentak. Segera kutaruh kopi di atas nakas, terburu-buru kutekan keyboardku, agar layar memunculkan jawab yang kunanti.

 

Aku : Tinggallah..malam ini saja

-last message 23.25-

Dia : …

Dia : maaf

 

Yah..aku tahu. Dia punya kewajiban lain, dan malam ini, mungkin bersama wanitanya. Aku hanya termangu menatap layar. Aku sudah menduga jawaban itu. Tapi entah mengapa, perih itu kini terasa menyelusup jauh lebih dalam.

 

Aku : kalau begitu, kenapa tidak bilang selamat tinggal?

Aku : kenapa kita tidak sudahi saja semua ini?

Aku : kenapa kamu masih disini?

 

Dia kembali diam. Aku gemas. Kuambil ponselku. Kutekan sederet angka lalu menunggu dering demi dering sebelum suara akrab yang selalu mengirimkan gelenyar di perutku menjawab dengan suara ragu.

 

“Kenapa telepon?” katanya?

“Karena kamu plin-plan dan aku benci itu!”

“Tapi kamu masih meladeniku”

“AAAH…tidak usah membalikkan keadaan, jawab sekarang!”

“Kamu tahu…aku tidak bisa..”

“HAH! kamu egois! kamu ingin aku selalu ada, tapi kamu mengusirku di saat bersamaan!”

“Bukankah kamu yang membuat keadaan kita jadi begini?”

“Apa? kenapa kamu kembalikan semua ini lagi ke aku?!”

“Kalau dulu jawabanmu ya, ini semua tidak akan terjadi”

 

Mendadak aku terdiam dan menutup telepon.

Tapi, meskipun waktu diputar kembali. Jawabanku masih tetap sama. Ah…kepalaku berat.

Mungkin tidur bisa menyembuhkan semua luka.