Jakarta Fashion Week (JFW) 2012 menutup tirai panggung modenya dengan perayaan feminitas lewat pergelaran Dewi Fashion Knights.
Tahun ini Majalah Dewi menampilkan lima ksatria mode, Auguste Soesatro, Tex Saverio, Sally Koeswanto, Sapto Djojokartiko dan Sebastian Gunawan. Di pergelaran Dewi Fashion Knights yang sekaligus menutup perhelatan mode akbar Jakarta Fashion Week 2012, kelima ksatria mode tersebut menghadirkan koleksi spektakuler, pernyataan mereka atas perayaan feminitas, perayaan untuk perempuan.
Perhelatan Dewi Fashion Knights, yang selalu menjadi acara puncak JFW, tampil semakin istimewa tahun ini karena sekaligus menjadi perayaan ulang tahun kedua puluh majalah tersebut. Karenanya, barisan desainer yang dipilih Dewi pun semakin spesial. Editor-in-Chief Dewi, Ni Luh Sekar, mengatakan Sally Koeswanto dan Sebastian Gunawan, yang mewakili established designer, dipilih karena komitmen mereka terhadap inovasi, sementara ketiga desainer yang lebih muda, Auguste Soesatro, Tex Saverio dan Sapto Djojokartiko membawa nafas segar dan wajah baru terhadap dunia mode Tanah Air.
“Sejak pertama kali dihelat pada 2008, Dewi Fashion Knights telah menjadi platform untuk menunjukkan bakat dan karya terbaik dari dunia mode Indonesia,” papar Ni Luh Sekar. “Tahun ini, mengambil tema Celebrating Women, Dewi Fashion Knights ingin membawa dan meninggikan perempuan,” imbuhnya.
Maka, tidak heran bila kemudian Fashion Tent Pacific Place, yang menjadi venue utama JFW 2012, sontak disesaki tamu undangan. Mereka semua tidak sabar melihat persembahan terbaik para ksatria mode, yang bukan bersenjatakan pedang dan perisai, melainkan imajinasi.
Sebastian Gunawan membuka pertunjukkan dengan koleksi penuh warna. Terinspirasi motif apik tenun Garut, Seba yang terkenal dengan gaya lembut nan feminin, berubah provokatif. Hitam, merah, putih, ungu dan kuning tampil berbeda, lebih berani dan edgy. Di belakang Seba, giliran Auguste Soesastro yang memikat ratusan pasang mata di JFW. Mengambil tema “Restu Bumi”, desainer yang memulai karir modenya di New York tersebut bercerita tentang penyelamatan lingkungan lewat fashion.
Hampir seluruh koleksi Auguste menggunakan material alam, serat nanas. Alumni Chambre Syndicale de la Couture, Paris, itu mengatakan koleksinya diperuntukkan bagi bumi. “Industri mode itu dunia yang sangat merusak lingkungan,” ujar Auguste. “Saya, sebagai environmentalist, berusaha melakukan sesuatu, salah satunya dengan selalu menggunakan serat alam dalam setiap koleksi saya,” sambungnya. Di atas panggung JFW, berlatar alam yang tandus, Auguste menyajikan koleksi yang teduh. Simpel dalam penampilan, namun ternyata kaya detail, seperti yang selalu dia katakan, “Couture is not always about the appereance.”
Selanjutnya Sally Koeswanto menghadirkan hewan mitos burung phoenix dalam balutan fashion bergaya oriental. “Phoenix punya konotasi positif, sebagai simbol cinta dan kebahagian, di sisi lain phoenix juga merupakan representasi ratu dan wanita,” papar Sally.
Kontras dengan Sally yang membawa nafas oriental, Sapto Djojokartiko mengusung sejarah negeri sendiri, yang terinspirasi legenda Tanah Bali, cerita Calon Arang, yang dibukukan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku “The King, The Witch and The Priest”. Lewat koleksi bertema “Sang Randeng Girah”, Sapto bercerita tentang sisi mistis Bali, melalui pola dan konstruksi yang merefleksikan wajah mistis Bali secara detail, termasuk penggunaan tekstur tali tambang, rambut, paku dan peniti.
Gelaran Dewi Fashion Knights ditutup dengan koleksi avant garde besutan Tex Saverio. Desainer yang karyanya pernah digunakan Lady Gaga ini menyajikan koleksi spesial yang melibatkan seniman ukir. Warna emas menjadi kanvas imajinasi liar Tex dalam merancang, sementara bentukan malaikat dan sayap-sayap merupakan cara Tex bercerita mengenai dualisme manusia. Tema “Revelation” yang diambil Tex dari salah satu ayat dalam kitab suci itu juga menjadi bentuk pesan yang memprovokasi seluruh elemen dunia fashion, untuk melihat bahwa industri mode bukan melulu mengenai komersialitas, namun juga sebagai sebuah dunia seni, dunia imajinasi dimana fantasi mewujud nyata.
*Seputar Indonesia, 20 November 2011