Cari Jodoh, nduk….

26. Angka tersebut menghampiri saya secara diam-diam, diantara hebohnya pemotretan menggunakan ribuan kelopak bunga berwarna-warni di Pasar Bunga Rawabelong. Saya bahkan tidak sadar jika usia saya berubah dari the great number 25 to 26, yang menurut banyak orang, adalah usia transisi, dimana pemikiran seseorang bergeser ke hal-hal yang lebih stabil, mapan, dan serius.

 

Hari ini, saya memang baru berusia 26 tahun lebih beberapa jam, dan (mungkin) karena usia itu datang diam-diam, saya belum (dan semoga tidak) merasakan transisi itu. Bagi saya, 26 hanyalah angka dari sederetan angka usia lainnya yang menjadi jatah dari Tuhan.

 

Tepat jam 12 malam, saat bulan Oktober berlalu, ponsel saya berdering, nomor ayah tertera disitu. Dengan hangat beliau dan ibu, bernyanyi untuk saya, memberi ucapan selamat ulang tahun lengkap dengan sebarisan doa dan satu kalimat pamungkas dari ibu, “Semoga cepat dapet jodoh yang baik, nduk”. Ah, ada sekelumit haru menyeruak di dada. Saya tahu, seperti ibu-ibu lainnya, ibu saya ingin melihat anaknya di pelaminan, bersanding dengan pria mapan dan kemudian memberinya cucu-cucu lucu yang akan menyemarakkan hari-harinya. Tapi, dengan bijaksana, beliau pun berkata, “Kejarlah dulu apa yang kamu mau”, tepat sebelum saya hendak mendebat permintaannya agar saya mencari jodoh.

 

I’ve been so lucky to have such great parents who understand me in everyway, though sometimes they did give me shite.  But trully, until this very second, married hasn’t be my top priority.

 

Keinginan menuju kesana? Jelas ada. Hey, I’m still a normal girl with all that freaky stuff on the surface. Saya juga punya mimpi untuk membangun sebuah keluarga, melahirkan tiga anak manis (dan bandel) yang kelak saya beri nama Langit, Senja, dan Bumi. Tapi, bukan sekarang, mam. Mungkin nanti.

 

Kembali di usia 26. Teman-teman saya, entah itu lebih muda ataupun tua, sudah banyak yang menikah dan beranak-pinak. Lucu juga, saat reuni, mereka datang dengan membawa rombongan balita berpakaian warna-warni atau tengah hamil besar dengan perut membulat dan serenteng keluhan mulai sakit pinggang hingga berat badan yang naik sampai 20 kg. Dan saya, tetap tampil seperti dulu, saat kuliah. Masih berandalan, berantakan, belum menikah, tidak menggandeng pacar, tapi dengan dandanan yang lebih fashionable tentu. Dan ya, saat mereka berdiskusi tentang kehidupan pernikahan serta menjadi ayah dan ibu, saya tidak merasa tertarik untuk masuk ke dalamnya. Jujur, saya masih lebih tertarik berdebat soal film, buku, atau bahkan tren fashion terbaru saat ini, ketimbang merk popok dan dokter spesialis anak terbaik di kota anu. Apalagi jika pembicaraan sudah bergeser ke kehidupan pernikahan yang naik-turun atau jika ada kata cerai terlibat di dalamnya. Saya lebih memilih diam, tersenyum, dan perlahan menghilang.

 

Dan di usia saya yang ke-26 ini, ada teman yang mengucapkan permohonan begitu syahdu, bahkan romantis menurut ukuran saya. Dia bilang, “Semoga cepat berlabuh di pelabuhan terakhirmu”. Pelabuhan terakhir. Ya, mungkin itu akan menjadi kata yang tepat bagi pria yang nantinya akan mendampingi saya. Kapan? Biar Tuhan saja yang menunjukkan waktunya, kawan. Karena, hati ini (masih) butuh waktu untuk sembuh setelah patah berulang kali.

 

Satu hal yang membuat saya tersenyum sepanjang hari ini (diantara perasaan emo dan depresif yang selalu menemani), saya kembali disadarkan bahwa saya punya banyak teman hebat yang begitu perhatian dan berada di sisi saat dunia ini, entah runtuh, berputar terbalik, atau berjalan apa adanya.

 

Thanks dear friends for all the birthday wishes. May the best comes upon us. Happy birthday me, lets face this 26 with pride and joy.

 


Kebon Sirih, 1 November 2009

 


About this entry