Message For Yummy Boy

 

once, you said that all i need is love.  my respond was just a laugh. you know, i found love, and then love left me, without hesitation or a slight consideration of what i so called five years relationship.

now, i become bitter, you said. well, my yummy boy, maybe that was a broken heart gave you.

i know, we shared a quite nice friendship back then in college. in fact, i adored you. you, with your long black hair and pair of clever eyes. but what captivated me the most, until now, is your smart conversation. i could stay for hours just listening to your theories, twisted-philosophies of you or a simple stories that we shared with laugh.

i appreciated our night that we through with beers, tequila or maybe just coffee, if you and me wanted to stay sober. and i really comfortable being in your arm. you know, i really love watched you sleep after beers.

but that’s it. i can’t feel the chemistry even when you touched my lips or kissed me. i know what you wanted from me. but, hear this yummy boy, i can’t be casual. once i gave in, it would be all of me, my body, my heart, my soul.

no, i wouldn’t call that love.  i can be pretty devoted without involving love. but i will need you to love me. and love here, yummy boy, will include your very soul. half-hearted relationship won’t work for me, because i want it all.

now, can you give that to me?

no. you can’t. you said, the only thing that you can’t give is love.

and so, it’s obvious for me that we have no future.  so, dear yummy boy, let us keep this simple. i will be there for you as you for me. nothing more, nothing less.

Bandung, frozen December, 2009.

Full Figure vs Skinny

Standar sosial telah memutuskan, imej seorang wanita sempurna adalah tinggi semampai, berkulit putih dan tentu saja bertubuh ramping.


Dari catwalk hingga gerai-gerai busana, yang dilihat konsumen adalah parade busana bagi si langsing. Sementara, plus-size hanyalah komplementer agar dunia mode tidak dianggap mengucilkan mereka yang berukuran plus. Desainer pun tampaknya tak ingin repot-repot “mengepas” busana bagi si chubby, alasannya? “Para model dengan ukuran tubuh nol terlihat lebih baik di atas catwalk juga dari balik kamera. Lagipula, itu yang konsumen harap untuk dilihat,” ujar desainer rumah mode Chanel, Karl Lagerfeld.

Continue reading

When India and Indonesia Collide

i got the opportunity to interview two most happening designers in India that came to Indonesia for their catwalk presentation in Jakarta Fashion Week 09/10, two weeks ago.Tarun Tahiliani and Malini Ramani, the Indian designers was very nice and they didn’t mind spending their cold and rainy afternoon with us and talking so much about everything.

here is the trancript of the interview…but in bahasa :D

the interview, in fact, published in Seputar Indonesia Daily.

Continue reading

Cari Jodoh, nduk….

26. Angka tersebut menghampiri saya secara diam-diam, diantara hebohnya pemotretan menggunakan ribuan kelopak bunga berwarna-warni di Pasar Bunga Rawabelong. Saya bahkan tidak sadar jika usia saya berubah dari the great number 25 to 26, yang menurut banyak orang, adalah usia transisi, dimana pemikiran seseorang bergeser ke hal-hal yang lebih stabil, mapan, dan serius.

 

Hari ini, saya memang baru berusia 26 tahun lebih beberapa jam, dan (mungkin) karena usia itu datang diam-diam, saya belum (dan semoga tidak) merasakan transisi itu. Bagi saya, 26 hanyalah angka dari sederetan angka usia lainnya yang menjadi jatah dari Tuhan.

 

Tepat jam 12 malam, saat bulan Oktober berlalu, ponsel saya berdering, nomor ayah tertera disitu. Dengan hangat beliau dan ibu, bernyanyi untuk saya, memberi ucapan selamat ulang tahun lengkap dengan sebarisan doa dan satu kalimat pamungkas dari ibu, “Semoga cepat dapet jodoh yang baik, nduk”. Ah, ada sekelumit haru menyeruak di dada. Saya tahu, seperti ibu-ibu lainnya, ibu saya ingin melihat anaknya di pelaminan, bersanding dengan pria mapan dan kemudian memberinya cucu-cucu lucu yang akan menyemarakkan hari-harinya. Tapi, dengan bijaksana, beliau pun berkata, “Kejarlah dulu apa yang kamu mau”, tepat sebelum saya hendak mendebat permintaannya agar saya mencari jodoh.

 

I’ve been so lucky to have such great parents who understand me in everyway, though sometimes they did give me shite.  But trully, until this very second, married hasn’t be my top priority.

 

Keinginan menuju kesana? Jelas ada. Hey, I’m still a normal girl with all that freaky stuff on the surface. Saya juga punya mimpi untuk membangun sebuah keluarga, melahirkan tiga anak manis (dan bandel) yang kelak saya beri nama Langit, Senja, dan Bumi. Tapi, bukan sekarang, mam. Mungkin nanti.

 

Kembali di usia 26. Teman-teman saya, entah itu lebih muda ataupun tua, sudah banyak yang menikah dan beranak-pinak. Lucu juga, saat reuni, mereka datang dengan membawa rombongan balita berpakaian warna-warni atau tengah hamil besar dengan perut membulat dan serenteng keluhan mulai sakit pinggang hingga berat badan yang naik sampai 20 kg. Dan saya, tetap tampil seperti dulu, saat kuliah. Masih berandalan, berantakan, belum menikah, tidak menggandeng pacar, tapi dengan dandanan yang lebih fashionable tentu. Dan ya, saat mereka berdiskusi tentang kehidupan pernikahan serta menjadi ayah dan ibu, saya tidak merasa tertarik untuk masuk ke dalamnya. Jujur, saya masih lebih tertarik berdebat soal film, buku, atau bahkan tren fashion terbaru saat ini, ketimbang merk popok dan dokter spesialis anak terbaik di kota anu. Apalagi jika pembicaraan sudah bergeser ke kehidupan pernikahan yang naik-turun atau jika ada kata cerai terlibat di dalamnya. Saya lebih memilih diam, tersenyum, dan perlahan menghilang.

 

Dan di usia saya yang ke-26 ini, ada teman yang mengucapkan permohonan begitu syahdu, bahkan romantis menurut ukuran saya. Dia bilang, “Semoga cepat berlabuh di pelabuhan terakhirmu”. Pelabuhan terakhir. Ya, mungkin itu akan menjadi kata yang tepat bagi pria yang nantinya akan mendampingi saya. Kapan? Biar Tuhan saja yang menunjukkan waktunya, kawan. Karena, hati ini (masih) butuh waktu untuk sembuh setelah patah berulang kali.

 

Satu hal yang membuat saya tersenyum sepanjang hari ini (diantara perasaan emo dan depresif yang selalu menemani), saya kembali disadarkan bahwa saya punya banyak teman hebat yang begitu perhatian dan berada di sisi saat dunia ini, entah runtuh, berputar terbalik, atau berjalan apa adanya.

 

Thanks dear friends for all the birthday wishes. May the best comes upon us. Happy birthday me, lets face this 26 with pride and joy.

 


Kebon Sirih, 1 November 2009

 

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.