Drama di Panggung Paris

Paris kembali bersinar dengan glamorama panggung mode. Fashion Week yang digelar selama satu minggu, menjadi saksi, betapa mode masih menjadi daya tarik utama di kota ikonik tersebut.

Drama di panggung Paris pun menjelma dalam pertunjukkan teatrikal yang menjadi ciri khas John Galliano untuk rumah mode Christian Dior. Bila musim lalu Galliano mempersembahkan koleksi bergaya burlesque yang terinspirasi dari Marlene Dietrich, kali ini yang menjadi inspirasi desainer eksentrik tersebut adalah film-film noir. Hasilnya, rangkaian trench coat yang tampak keluar dari era 50-an, mendominasi koleksi Dior untuk musim semi dan musim panas 2010. Lainnya, Galliano menghadirkan gaun bergaya lingerie-like ataupun rangkaian denim berwarna metalik yang akan membuat para disco diva berseru gembira.

Citra glamor juga menjadi tema koleksi milik Vivienne Westwood yang minggu sebelumnya mempersembahkan Red Label di London. Desainer bergelar Dame itu tetap mempertahankan ciri khasnya dengan menghadirkan punk rock yang dikombinasikan bersama gaya chic ala Paris. Sebagai finale, Westwood menampilkan gaun pengantin bergaya avant-garde dengan slogan anti-pemanasan global, yang menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan.

Dua desainer tersebut dengan jelas menunjukkan, di banding kota-kota mode lainnya, Paris masih tetap yang terbaik untuk urusan mode. New York boleh jadi cemerlang dengan ide-ide kontemporer, sementara London bangga dengan gelarnya sebagai pencetak desainer muda berbakat, dan Milan tetap menjadi kota mode kebanggan Italia yang menjunjung tinggi tradisi. Namun diantara semuanya, Paris adalah kota dimana desainer memantapkan bisnisnya serta mengesahkan diri sebagai perancang berkelas internasional. Tak peduli iklim ekonomi cerah ataupun mendung, fashion tetap milik Paris.

Kendati demikian, sisi glamor Paris pun harus mengakui bahwa industri mode bekerja keras dalam menghadapi krisis ekonomi global, terutama mereka yang berkecimpung di pasar produk mewah. Paris Fashion Week, layaknya wanita tua yang anggun, berhasil tampil cantik dengan make up dan gaun indah, namun tetap tidak bisa menutupi kerut dan keriput yang kini menghiasi wajahnya. Begitu pun dengan para fashionista dan sosialita yang mengeluhkan venue yang lebih kecil serta after party yang kini hanya diadakan beberapa desainer saja.

“Dibanding kota-kota mode lainnya, Paris memang tidak terlihat menderita kerusakan yang besar akibat krisis. Tapi kerusakan itu tetap ada, hanya tersamarkan. Kami, para desainer, berusaha memberi tips untuk tampil hebat tanpa harus memboroskan uang, tentu saja dengan koleksi yang lebih ramah terhadap krisis, baik dari segi garis rancangan ataupun detail,” ujar Westwood, seperti dikutip Reuters.

Kencangkan Ikat Pinggang

Demi mempertahankan citra glamor yang identik dengan fashion Paris, para desainer sepertinya sepakat memindahkan pertunjukkan ke venue yang lebih kecil dan menutupnya dengan resepsi sederhana, bukan lagi pesta pora sepanjang malam. Tindakan pengencangan ikat pinggang tersebut memang di satu sisi berpengaruh bagus terhadap cash flow, dan sebaliknya membawa pengaruh buruk bagi hubungan sosial.

Salah satu buyer Westwood yang kerap duduk di barisan depan harus menahan kesal dan puas saat menerima urutan tempat duduk di baris kedua. “Pikirkan ini, kami mengeluarkan uang untuk membeli koleksi para desainer dalam jumlah banyak, sementara orang-orang yang kemungkinan hanya membeli satu baju kini duduk di bagian depan. Itu tidak adil,” protesnya kepada salah seorang asisten Westwood.

Selain buyer dan peritel, barisan depan di sebuah fashion show juga diperuntukkan bagi selebriti, pihak media, serta orang-orang terdekat sang desainer. Lihat saja barisan depan di pertunjukkan Dior yang ditempati Bruce Willis serta penyanyi Rihanna, yang juga tampak di pertunjukkan Westwood. Di akhir acara, Rihanna mengatakan bahwa koleksi Westwood sangat menyenangkan untuk dilihat, sementara pertunjukkan Dior sangat seksi.

Galliano memang pantas diacungi jempol lewat koleksinya. Bahkan Bernard Arnault, presiden LVMH Louis Vuitton Moet Hennessy, pemilik rumah mode Dior, angkat topi bagi Galliano sembari menyebut peningkatan penjualan terjadi enam kali lipat semenjak Dior dinahkodai desainer yang kerap berpenampilan avant-garde itu.

“Sejak awal, Galliano membuktikan dirinya mampu menjual dengan sangat baik,” ujar Arnault.

Bujet yang terbatas juga membuat desainer terpaksa mengeluarkan koleksi dengan gaya simpel dan praktis, koleksi yang mengeluarkan aura kesederhanaan, kendati desainer Paris belum kehilangan gaya dengan menyajikan berbagai twist yang membuat koleksinya tampak cantik. Lihat saja koleksi Sharon Wauchob yang tampil feminin dengan bahan lace dan detail metalik, sementara Bruno Pieters menampilkan koleksi yang lebih berwarna dengan scarf sebagai aksen. Adapun desainer India Manish Arora mempersembahkan koleksi berpalet menyolok dalam garis muda, yang dikatakannya terinspirasi dari kemiskinan.

“Tidak banyak yang beranggapan seperti ini, tapi bagi saya, kemiskian mendorong kreativitas. Masa krisis seperti saat ini adalah tantangan, bagaimana membuat koleksi menarik dengan bujet terbatas,” tuturnya.


About this entry