Vegan Fashion, Antara Moral dan Gaya

Vegan Fashion, Stella McCartney SS09
Mendengar kata vegetarian, yang pertama terlintas pastilah tentang gaya hidup yang membatasi diri akan menu sayur-mayur ketimbang daging. Namun bagaimana bila vegetarian merasuk dalam fashion?
Ya, diet yang didominasi menu vegetarian kini tidak hanya terbatas pada makanan semata, tapi juga di industri fashion, yang disebut sebagai Vegetarian Fashion. Seperti apa? Para penganut vegan fashion sebenarnya bergeser dari vegetarian yang sebelumnya fokus pada diet mereka semata. Vegan style berkembang dari mereka yang tidak lagi mengonsumsi daging-dagingan ke gaya hidup yang juga terbebas dari apapun yang berdenyut jantung. Gaya ini lahir dari pemahaman bahwa mereka yang tidak mengonsumsi daging pun bisa tampil fashionable, dengan busana yang juga terbebas dari material yang mereka anggap, dalam prosesnya, menyakiti makhluk hidup.
“Jika seekor binatang tersakiti dalam proses pembuatan busana, maka itu bukan menjadi pilihan kami, para vegan fashion, tidak peduli jika busana itu berkualitas tinggi atau hasil rancangan desainer kenamaan,” ujar Elizabeth Olsen, pendiri brand alas kaki olsenHaus Pure Vegan, yang berbasis di New York.
Karena itu, wajar bila para penganut vegan fashion tidak menggunakan busana yang terbuat dari kulit, sutra, ataupun wol, mengingat dalam pembuatannya, kain-kain tersebut berasal dari sapi, ulat sutra, dan biri-biri. “Kami prihatin dengan kenyataan banyak hewan yang dikorbankan dalam industri fashion,” imbuh Olsen, mengacu pada industri wol, sutra, serta kulit, termasuk juga bulu minx, kulit ular dan buaya yang menempati peringkat material eksotik berharga tinggi.
Lalu, material apa yang menjadi pilihan para vegan fashion? Olsen lebih lanjut menjelaskan bahwa menjadi seorang vegan fashion berarti juga lebih jeli dalam memilih apa yang mereka pakai, bukan hanya yang mereka makan. “Kita harus jeli dalam melihat label,” terangnya.
Bukan Sekedar Wacana
Gaya berbusana yang baru muncul beberapa tahun terakhir ini, pada awalnya dianggap sebuah oksimoron belaka. Namun, penyebarannya yang cepat hingga dari Amerika ke Eropa dan Asia, terutama diantara para vegetarian membuat gerakan ini semakin terlihat nyata. Di awal perkembangannya, berbusana ala vegan berarti mengenakan busana yang terbuat dari serat tumbuhan atau mengenakan kaus dari katun organik dengan slogan anti penyiksaan terhadap binatang, seperti yang banyak dilakukan anggota People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) .
Tentu saja, hanya terdapat sedikit pilihan pada waktu itu, terutama untuk koleksi sepatu, aksesoris, dan baju hangat, yang kebanyakan menggunakan wol atau bahan kulit. Namun, terimakasih pada perkembangan pesat dalam industri fashion yang mulai menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan ataupun keyakinan moral para konsumennya, memberikan pilihan yang lebih luas untuk menentukan apa yang hendak digunakan. Apakah itu katun organik demi kepedulian akan pemanasan global dan polusi lingkungan akibat pupuk kimia, mantel dengan bulu sintetis demi menghormati etika terhadap hewan, ataupun gaun dari serat bambu berharga ribuan dolar besutan Stella McCartney, desainer yang mendukung penuh gerakan Vegetarian Fashion.
“Saya rasa Vegan Fashion kini semakin dianggap serius, seperti halnya organic fashion serta industri manufaktur yang lebih mementingkan etika sosial dengan tidak lagi mempekerjakan anak-anak di bawah umur ataupun memberi upah di bawah standar,” papar Olsen, yang selama setahun terakhir memproduksi stiletto, pumps, serta boots dari suede, material organik, serta bahan daur ulang.

Le Casan, Vegan Shoes by Natalie Portman
Lewat koleksi yang dihadirkannya, Olsen berhasil mencuri perhatian, bukan hanya para fashionista yang menjunjung tinggi etika lingkungan, tapi juga para pesohor. Pasalnya, koleksi sepatu yang ditawarkannya tidak jauh berbeda dengan rangkaian alas kaki di etalase Manolo Blahnik, Stuart Weitzmann, ataupun Roger Vivier, jenis sepatu yang akan mendapat respon positif di atas karpet merah.
Olsen, 36, sudah menjadi vegetarian sejak berusia 15 dan sangat mengagumi komitmen PETA dalam membela hak-hak hewan, terutama di dunia fashion. Pengalamannya bekerja sebagai direktur kreatif Tommy Hilfiger memberinya ide untuk mendukung gerakan vegan fashion, pilihan yang diambilnya sebagai karir setelah sukses merancang sepatu organik seharga USD800 untuk Stella McCartney, desainer vegan paling populer saat ini.
“Vegan Fashion adalah alternatif untuk tetap tampil fashionable tanpa harus berkontribusi terhadap pembantaian binatang untuk memenuhi kebutuhan sandang,” terang Jackie Horrick, pemilik butik vegan Alternative Outfitters di Pasadena. “Apa yang terjadi di dunia fashion sekarang ini adalah gaya individual, yang sebenarnya justru mendorong perkembangan vegan fashion,” ujar Horrick, yang menawarkan koleksi mantel faux-fur dan tas tangan dari kulit sintetis di butiknya.
- Vegan Fashion, Stella McCartney SS09
- Le Casan, Vegan Shoes by Natalie Portman
- Faux Fur, an vegan and cruelty-free alternative for high-end style
“Lagipula, dibandingkan mementingkan kualitas premium dari mantel bulu minx yang berharga ribuan dolar, kami menawarkan koleksi yang tidak kalah stylish dengan harga yang jauh lebih murah,” sambungnya.
“Apa yang ditawarkan vegan fashion adalah gaya individual dengan rasa moral yang lebih baik, karena Anda tahu Anda mengenakan busana yang bebas dari kekejaman terhadap binatang, selain membantu mengurangi polusi lingkungan ” ujar Holly Miller, seorang penganut vegan fashion yang juga telah menjadi vegetarian selama lebih dari 15 tahun.
Dalam komunitas fashion global, Vegan Fashion saat ini memang masih termasuk kelompok kecil namun dengan potensi pertumbuhan pesat. Menurut data Vegetarian Times di tahun 2008, penganut vegan fashion di Amerika berjumlah 7.3 juta orang dan hanya 1% diantaranya yang juga vegetarian. Vegetarian Times juga menulis alasan yang membuat vegan fashion tumbuh cepat karena etika vegan fashion berjalan seiring dengan environmentalisme yang kini menjadi isu utama dalam fashion. Hal tersebut terbukti dari hasil survey yang menyebutkan bahwa sebagaian besar penganut vegan fashion mengikuti gaya hidup tersebut dengan alasan kepedulian lingkungan.
“Yang tidak diketahui para konsumen fashion adalah bahwa peternakan berkontribusi terhadap pemanasan global dengan menyumbang gas rumah kaca lebih banyak dari sektor transportasi, atau mereka hanya tidak peduli dengan kenyataan tersebut,” pungkas Miller.
About this entry
You’re currently reading “Vegan Fashion, Antara Moral dan Gaya,” an entry on ..senja
- Published:
- September 27, 2009 / 7:36 am
- Category:
- fashion report
- Tags:
- enviromentalism, fashion, stella McCartney, vegan






2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]