Merindu

aku merindu. bukan. bukan pada seseorang tapi pada masa lalu. aku merindu semangat yang dulu aku miliki, yang (mungkin) sekarang semakin terkikis. aku merindu tawa dan ceria yang dulu terpancar di mataku, yang kini (mungkin) tergerus nyata. aku rindu merasa muda, tanpa harus mengingat segala beban dan tanggung jawab.

ah tapi, bukankah waktu memang bergulir tak berhenti. lambat laun kemudaanku terkikis. bukan, bukan keriput yang ku khawatirkan, tapi semangat yang kian hilang dan rasa tak aman yang semakin besar.

duniaku berubah, tapi aku tak ingin ikut terpusar didalamnya. aku mencoba bertahan dalam status quo. (mungkin) ini yang membuatku merasa tua, karena dulu, tanpa pikir panjang, aku pasti sudah terjun dalam pusaran sembari tertawa. ah, enaknya menjadi muda.

Tapi, bukankah aku masih muda?

Umurku belum lagi 30, masih panjang langkahku kata orang-orang.

Tapi yang kulihat hanyalah satu pintu besar dan pagar tinggi di sekelilingku. aku terkungkung, terkurung, terpasung. Tak lagi kulihat pintu-pintu atau barisan jendela. tak ada lagi jalan berliku dengan pemandangan berwarna-warni. ah, aku rindu kebebasan itu.

(mungkin) kata temanku, aku terlalu lama hidup dalam tekanan, hidup diantara dua kota, berusaha menyeimbangkan diri dengan semua kewajiban dan (terkadang) melupakan hak untuk bersuka. aku kehilangan waktu. waktu untuk diriku sendiri, waktu untuk merasa muda, bebas, dan ceria. waktu untuk merasa dicinta.

ah, cinta. betapa picik pikirku tentang cinta. aku ingin dicinta layaknya semua manusia. tapi kadang aku lalai memberi dan hanya meminta. aku terus berkata tidak, hingga (yang kukira) cinta lari dan pergi. kataku, aku tersakiti, aku luluh, dan aku pun membenci. tapi, aku tak sadar, betapa dulu aku kerap menyakitinya dengan berkata tidak, dengan menempatkan mimpi didepan kami, dengan mengedepankan apa yang ingin aku raih, bukan yang ingin kami capai. ah, (dulu) aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu, pikirku yang kini merasa tua.

lalu bagaimana dengan aku yang kini merindu? aku yang merindu hangat saat berbicara berdua, merindu lembut genggam tangan, dan merindu panas saat tubuh mengundang peluh.

Perasaan rindu ini memang bisa membuat gila. membuatku menghisap berbatang-batang lucky strike dan menenggak bergelas-gelas kopi tapi tetap tak mau hilang, masih bercokol di sudut jiwa. Dan hati yang merindu pun membuatku mengenang lalu menuangkan rasa itu dalam satu botol bening yang kuletakkan di dalam lemari. Lalu aku diam menunggu, hingga saatnya rindu itu kularung untuk bertemu dengan dia, yang akan menerimanya, suatu waktu nanti.


About this entry