Melirik Industri Mode Tanah Air

Fashion Village, Jakarta Fashion & Food Festival

Fashion Village, Jakarta Fashion & Food Festival

Mode, bukanlah merupakan pergelaran busana semata. Terdapat mata rantai panjang yang saling berhubungan membentuk sebuah industri kompleks yang dinamakan fashion.

Untuk menjadikan fashion sebagai industri, bukanlah merupakan hal yang mudah. Pasalnya semua unsur di dalamnya harus saling mendukung. Dan demi mendapatkan keterkaitan itu, dibutuhkan kerjasama dan usaha keras dari berbagai pihak. Indonesia, di satu sisi punya semua bahan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk masuk dalam industri fashion. Namun, karena belum ada keterkaitan di dalamnya, mata rantai industri itu belum terbentuk sempurna. Yang menjadikan fashion Indonesia saat ini, baru sebatas home fashion industry.

Pendapat tersebut diungkapkan desainer senior Indonesia Poppy Dharsono. Dia memaparkan, untuk menjadi sebuah pusat mode, Indonesia harus masuk ke dalam industri fashion sekaligus memiliki ciri khas yang menjadi pembeda. “Kita bisa menuju kesana. Tapi, sebelumnya fashion Indonesia harus di-switch dulu ke industri. Sementara saat ini fashion kita masih dalam tahap home fashion industry,” terang pendiri Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini.

Continue reading

Vegan Fashion, Antara Moral dan Gaya

Vegan Fashion, Stella McCartney SS09

Vegan Fashion, Stella McCartney SS09

Mendengar kata vegetarian, yang pertama terlintas pastilah tentang gaya hidup yang membatasi diri akan menu sayur-mayur ketimbang daging. Namun bagaimana bila vegetarian merasuk dalam fashion?

Ya, diet yang didominasi menu vegetarian kini tidak hanya terbatas pada makanan semata, tapi juga di industri fashion, yang disebut sebagai Vegetarian Fashion. Seperti apa? Para penganut vegan fashion sebenarnya bergeser dari vegetarian yang sebelumnya fokus pada diet mereka semata. Vegan style berkembang dari mereka yang tidak lagi mengonsumsi daging-dagingan ke gaya hidup yang juga terbebas dari apapun yang berdenyut jantung. Gaya ini lahir dari pemahaman bahwa mereka yang tidak mengonsumsi daging pun bisa tampil fashionable, dengan busana yang juga terbebas dari material yang mereka anggap, dalam prosesnya, menyakiti makhluk hidup.

“Jika seekor binatang tersakiti dalam proses pembuatan busana, maka itu bukan menjadi pilihan kami, para vegan fashion, tidak peduli jika busana itu berkualitas tinggi atau hasil rancangan desainer kenamaan,” ujar Elizabeth Olsen, pendiri brand alas kaki olsenHaus Pure Vegan, yang berbasis di New York.

Continue reading

25 Tahun London Fashion Week

Memperingati hari jadinya yang ke-25, London Fashion Week berdandan istimewa. Barisan desainer kenamaan Inggris dipanggil pulang, demi memberi persembahan pada panggung yang membesarkan nama mereka.

Di antara lima kota mode papan atas, London memang memiliki julukan sebagai pencetak desainer muda berbakat. Sebut saja Vivienne Westwood, John Galliano, Alexander McQueen, Paul Smith, Matthew Williamson, Stella McCartney ataupun Christoper Kane. Belum lagi barisan rumah mode dan brand kenamaan layaknya Burberry Prorsum, Mulberry, serta Topshop. Nama-nama terkenal yang sebelumnya meramaikan panggung ibukota Inggris, sebelum akhirnya memutuskan hijrah ke panggung Paris ataupun Milan untuk merangkul pasar yang lebih luas.

Karenanya, di perayaan hari jadinya yang ke-25, para “alumnus” London Fashion Week tersebut menunjukkan penghormatan bagi panggung yang membesarkan nama mereka dengan mempertunjukkan koleksi istimewa. Catwalk London pun tak ayal disesaki fashionista, sosialita, serta selebriti yang ingin mencicipi semarak pesta mode tersebut. Tanpa ragu, mereka langsung berpindah dari Pekan Mode New York yang baru menutup tirai akhir minggu lalu, untuk menyaksikan tirai panggung London dibuka, beserta segala gemerlap dan pesonanya pada tanggal 18 September lalu.

Continue reading

choked

i opened up someone’s page who is  in my circle of friend, my highschool friend.

Since i knew her, she always be the shining girl, the one who they call sunshine. bright, beautiful, friendly, the one who makes lots of friends and she does, until now, when i see her again through pages on facebook.

i wanna know more about her life, the way she changed and i start to read. There was she, with her life bare open for my eyes to see. The once sunshine girl was gone, she, now is someone entirely different. It just her smile that stays remain. Smile that once calmed me, when i was in a deep agony. But the rest, the girl that i remembered, gone, away with the time.

Her life now surrounded by music, lights, and fun, but in the world that maybe lots of people will despise.

And somehow, i felt jealous. Not by her lifestyle, but by the way she opens up her world, broaden her horizon to become someone new, who maybe could see life in more different point of view.

and all of a sudden, my world shrinked. i choked. cannot breath. there’s no air in here.

Merindu

aku merindu. bukan. bukan pada seseorang tapi pada masa lalu. aku merindu semangat yang dulu aku miliki, yang (mungkin) sekarang semakin terkikis. aku merindu tawa dan ceria yang dulu terpancar di mataku, yang kini (mungkin) tergerus nyata. aku rindu merasa muda, tanpa harus mengingat segala beban dan tanggung jawab.

ah tapi, bukankah waktu memang bergulir tak berhenti. lambat laun kemudaanku terkikis. bukan, bukan keriput yang ku khawatirkan, tapi semangat yang kian hilang dan rasa tak aman yang semakin besar.

duniaku berubah, tapi aku tak ingin ikut terpusar didalamnya. aku mencoba bertahan dalam status quo. (mungkin) ini yang membuatku merasa tua, karena dulu, tanpa pikir panjang, aku pasti sudah terjun dalam pusaran sembari tertawa. ah, enaknya menjadi muda.

Tapi, bukankah aku masih muda?

Umurku belum lagi 30, masih panjang langkahku kata orang-orang.

Tapi yang kulihat hanyalah satu pintu besar dan pagar tinggi di sekelilingku. aku terkungkung, terkurung, terpasung. Tak lagi kulihat pintu-pintu atau barisan jendela. tak ada lagi jalan berliku dengan pemandangan berwarna-warni. ah, aku rindu kebebasan itu.

(mungkin) kata temanku, aku terlalu lama hidup dalam tekanan, hidup diantara dua kota, berusaha menyeimbangkan diri dengan semua kewajiban dan (terkadang) melupakan hak untuk bersuka. aku kehilangan waktu. waktu untuk diriku sendiri, waktu untuk merasa muda, bebas, dan ceria. waktu untuk merasa dicinta.

ah, cinta. betapa picik pikirku tentang cinta. aku ingin dicinta layaknya semua manusia. tapi kadang aku lalai memberi dan hanya meminta. aku terus berkata tidak, hingga (yang kukira) cinta lari dan pergi. kataku, aku tersakiti, aku luluh, dan aku pun membenci. tapi, aku tak sadar, betapa dulu aku kerap menyakitinya dengan berkata tidak, dengan menempatkan mimpi didepan kami, dengan mengedepankan apa yang ingin aku raih, bukan yang ingin kami capai. ah, (dulu) aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu, pikirku yang kini merasa tua.

lalu bagaimana dengan aku yang kini merindu? aku yang merindu hangat saat berbicara berdua, merindu lembut genggam tangan, dan merindu panas saat tubuh mengundang peluh.

Perasaan rindu ini memang bisa membuat gila. membuatku menghisap berbatang-batang lucky strike dan menenggak bergelas-gelas kopi tapi tetap tak mau hilang, masih bercokol di sudut jiwa. Dan hati yang merindu pun membuatku mengenang lalu menuangkan rasa itu dalam satu botol bening yang kuletakkan di dalam lemari. Lalu aku diam menunggu, hingga saatnya rindu itu kularung untuk bertemu dengan dia, yang akan menerimanya, suatu waktu nanti.

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.