Statistika, Cinta, dan Matematika

Dari dulu, saya tidak suka statistika walaupun saya suka mengulik matematika. Aljabar dan logaritma rasanya tidak sebanding dengan analisis varians, chi square, ataupun uji korelasi pearson. Tapi hari ini, di saat statistika dengan kejam menghajar pagi, rasanya kepala saya baik-baik saja. Angka-angka seolah meresap masuk begitu saja, mudah rasanya. Memahami Goodness of fit dan homogenitas dengan software statistica, minitab, ataupun microsoft excel, bagaikan melakukan dua tambah dua. Semudah itu.

Alasannya? Ada kamu di kepala saya.

Hahaha..mungkin ini memang klise. Tapi, kamu inspirasi saya pagi ini. Melihat senyum kamu di wallpaper komputer rasanya begitu mencerahkan. Apalagi, semalaman saya penuh memikirkan kamu. Berusaha mencari makna akan senyum dan lakumu dalam seribu diam.

Sebenarnya, apa yang saya lakukan akan menyakitkan. Saya tahu. Karena kerap kali analisis saya tidak sesuai laku nyata. Istilah statistiknya, tolak Ho. Ya, kamu sama sekali tidak bisa dianalisis oleh uji hipotesa statistika. Tingkah laku kamu bagaikan pencilan atas atau bahkan pencilan bawah yang tidak terangkum dalam rata-rata. tapi, mempelajari statistika akan kamu rasanya akan lebih menyenangkan ketimbang mengulik barisan angka untuk mengetahui korelasi laju korosivitas lempeng logam dan kepadatan perifiton atau mengetahui pengaruh green consumerism terhadap gaya berbelanja masyarakat urban.

Kamu, ya kamu, memang mampu memberi inspirasi lebih. Karena itu, saya membiarkan kamu bercokol di kepala saya. Tidak peduli walaupun rumus-rumus statistik dari sang profesor lewat begitu saja.

“Follow your dreams. In life, we never stop learning. Never feel bad because you can never really master something. In the end, if you dream about something, that means you’re passionate about it. Then you should do something about it and it will take you places.”
-Proverb-

*Menemukan sepenggal tulisan ini di antara belasan file dalam hard disk komputer dan saya tersenyum. Dulu ada seorang lelaki yang memberi saya perasaan ringan bagai ada kupu-kupu beterbangan dalam perut. Laki-laki yang, ah…mengingat namanya saja membuat saya senang.
Tapi, waktu itu telah lama berlalu. Dia sudah jauh pergi dari hati saya. Oh, bukan…bukan dalam artian jarak. Kami masih kerap bertemu, beberapa kali, bertukar sapa. Tapi hanya itu. Selebihnya, terbang bersama waktu. Tapi, saya bahagia. Karena saya tahu, saya masih bisa merasakan perasaan itu. Rasa mendamba bagai gadis SMA*


About this entry