Tarian Hujan
Tidak berhenti..
Hujan masih saja tidak berhenti. Terus menerus menerpa jendela café tempatku berteduh. Aku kesal pada hujan. Kesal pada derasnya, kesal karena dia tidak berhenti sesaat, kesal karena hujan membuatku tidak bisa bernapas. Rasanya sesak. Duduk diam menunggu hujan, memandang keluar dan hanya melihat deras air menghajar bumi.
Satu batang rokok lagi kunyalakan untuk membantu mengusir bosan, lalu menyesap kopi manis beraroma rum yang kupesan sedari tiga jam lalu. Ah..kesal.
Sesaat kubiarkan pikiranku melayang, memandang hujan yang terus turun tanpa henti.
Aku bertanya dalam hati, kalau aku berjalan saja menembus hujan, apa yang akan terjadi? Basah, itu pasti. Tapi, aku tidak peduli, bagiku, basah bukan masalah. Lalu, apa yang membuatku diam dan tetap duduk di tempatku sekarang? Aku ingat, aku tak suka dingin dan lagi aku benci bila sepatuku basah. Temanku bilang aku sudah gila. Aku bisa membiarkan seluruh tubuhku basah, tapi aku bisa sangat kesal bila sepatu yang kukenakan terkena air. Kurasa itu yang membuatku tetap diam disini, tetap memandangi hujan dan merasa bosan.
Satu batang rokok lagi berakhir di asbak, bersama kumpulan puntung-puntung lain. Aku masih bosan, hujan tetap tidak berhenti. Aku melirik ponsel yang kuletakkan di sebelah gelas kopi, menanti pesan atau telepon masuk yang akan membuat hariku sedikit cerah, tapi ponselku tetap membisu. Haaah..aku menghembuskan napas panjang, semakin tenggelam dalam bosan.
Aku menumpukan tanganku di atas meja, menopang dagu dan terus memandang ke luar jendela, menonton hujan yang menari riang di luar sana. Entah kenapa, setelah beberapa jam hujan berubah bentuk di mataku, menjadi sesosok tubuh yang bergerak bebas mengikuti iramanya sendiri, hujan sedang menari.
Sekarang, hujan melakukan tarian menggoda, meliukkan tubuhnya dalam gerakan cepat dan sensual, ada sesuatu yang erotis di situ. Mataku lekat menatap jendela. Aku melihat sesosok perempuan menggoyangkan tubuhnya, cepat, keras, berirama, seksi. Lamat-lamat, aku bahkan mendengar gemerincing logam yang membentuk musik di sekitarku. Sesaat kemudian, ada sesosok tubuh lagi yang memeluk sang penari seksi, kali ini seorang pria. Tangannya merengkuh seakan ingin memiliki dan mendekap erat tubuh sang wanita. Aku menatap lekat, tak ingin kehilangan satu pun momen dari tarian itu.
Mereka berpelukan, begitu rapat, emosional. Aku menahan napas. Sang wanita merengkuh kepala sang pria, tatapannya memancarkan banyak hal. Aku terseret, jantungku berdetak semakin cepat. Aku melihat, tangan sang pria mendekap erat pinggang sang wanita, menahannya di dada, dari bibirnya aku melihat uap panas yang segera hilang disapu dinginnya hujan. Mereka berpelukan lama, begitu dekat. Aku terpaku memandang mereka.
Dalam hati, aku tahu ini tarian perpisahan. Emosi sang wanita terpancar kuat dari mata dan gerakan tubuhnya. Aku tahu dia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Dia tahu, ini adalah pertemuan mereka yang terakhir. Sang pria pun terlihat begitu posesif, mendekap erat sang wanita seakan ingin membuatnya lebur dalam hujan.
Emosiku tercekat, aku kini bagai menyaksikan pertunjukkan opera mengenai cinta terlarang. Mataku panas, ada air mata yang mengancam turun. Aku meremas tissue di dekat gelasku, namun tak ingin memalingkan pandangan. Tarian di hadapanku terasa begitu indah sekaligus membuatku bagai teriris sembilu.
Tiba-tiba mereka berpisah. Aku terkesiap, sang wanita melompat dalam satu gerakan cepat, sementara sang pria berputar dan menghilang. Lalu semua sepi.
Emosi kental itu hilang. Jendelaku kembali kosong, hanya titik-titik air kulihat menetes pilu. Hujan telah berhenti.
Ngopi Doeloe, 050309
About this entry
You’re currently reading “Tarian Hujan,” an entry on ..senja
- Published:
- March 17, 2009 / 12:44 pm
- Category:
- untai kata
- Tags:
- emosi, hujan, ngopi doeloe



3 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]