Rumput Yang Jatuh Cinta Pada Angin

Ini cerita tentang aku.

Rumput yang mencintai angin.

Jika ditanya awalnya, aku tak tahu darimana harus memulai. Cerita ini sudah setua kehidupan, karena kisah cintaku abadi, seperti sejak mula aku dan kamu diciptakan. Yang aku tahu, aku mencintai kamu. Aku mencintai belaian lembutmu sesaat setelah embun membasuh tubuhku dan matahari menghangatkan tanah tempatku berpijak. Saat itulah, kamu datang. Berhembus pelan, mengajakku menari dalam sapuanmu yang lembut. Lama-kelamaan, hembusanmu menguat, kamu membuatku bergoyang. Kendati saat siang menjelang, kamu akan pergi membiarkanku sendiri tersiram terik. Barulah di saat matahari bergeser, kamu datang, meniupkan asa dan membuatku kembali bergoyang.

Kamu memberiku keriaan dan menyuntikkan semangat kebebasan yang bukan merupakan bagian dariku. Aku terikat pada tanah. Meski tercerabut, aku akan kembali menggenggam tanah, dimana kehidupanku bermula. Bukannya aku membenci tanah, tapi hadirmu membuatku sedikit bebas. Dan karena itu aku mencintaimu.

Aku mencintaimu saat matahari terasa begitu ganas. Aku mencintaimu saat awan mendung. Aku bahkan mencintaimu saat badai mendera. Aku bisa merasakan gairahmu, saat tangan-tangan ringanmu mendekapku erat dan kita menari bersama hujan. Kamu tertawa saat petir menggelegar, dan berputar semakin kencang. Terkadang kamu membawaku terbang dan berpilin di udara. Di lain waktu, kamu membuatku rebah ke tanah, seolah ingin memiliki seluruh diriku. Namun di saat aku siap mengorbankan ragaku, kamu mendadak pergi. Meninggalkan sepi bersama mendung dan hujan yang terusir pergi.

Aku selalu menanti. Meskipun kamu datang dan pergi. Akarku menghujam teguh di tanah, berpijak erat dan bersiap saat kamu datang dengan segenap kekuatanmu. Kamu berkata rindu saat hembusanmu begitu kuat. Kamu berkata mesra ketika membelaiku lembut. Tapi, tak pernah sekalipun aku mendengar kata cinta terucap.

Aku mendengar pohon-pohon tinggi berbisik. Aku mendengar burung-burung bercanda. Aku mendengar bunga-bunga berdendang saat kamu datang. Kamu bagaikan pangeran di istana seribu putri. Menggoda dan memikat, tapi tidak pernah tinggal.

Bila bunga jatuh cinta, dia mekar merona dan menjeratmu dengan serbuk sari mewangi. Bila burung terpesona, dia menyanyi merdu untukmu. Dan bila pohon terpikat rayuanmu, daun-daunnya akan bergemerisik riuh menyambut dan membiarkanmu melingkari dahan-dahan kokohnya. Aku, hanya mencintaimu dalam seribu diam. Tidak ada serbuk mewangi, nyanyian merdu ataupun gemerisik daun.

Namun bunga mudah patah hati dan menjadi layu, burung pun terbang menghilang saat bosan. Pohon-pohon mafhum akan sifatmu dan mundur dengan anggun. Aku? Aku tetap mencintamu. Berkali-kali patah hati, berkali-kali rebah dan terhempas, aku tetap mencinta. Jika kau tanya mengapa, jawabanku hanya satu.

Karena aku rumput yang jatuh cinta pada angin.


About this entry