Dongeng Putri dan Pembasmi Naga
Kinanti memandangi gelas kosong di hadapannya. Beberapa jam lalu, gelas itu penuh dengan cairan keemasan yang menandaskan dahaga, namun kini dasar gelas yang bening memantul kembali padanya. Begitu juga semangat menggebu yang tadi melingkupinya.
Hari ini Kinanti seharusnya bertemu seseorang. Seorang pria, yang selama ini hanya dikenalnya lewat dunia maya, entah itu IM chat, friendster, facebook, plurk, blog, sebut saja semuanya. Hari ini, seharusnya pria itu menjelma nyata. Namun, tiga jam berlalu begitu saja. Notebook berlayar 12 inchi yang setia menemani Kinanti berkedip-kedip, tanpa memberi satupun kabar bahagia. Semua laman pertemanan, chatting, serta blog yang dibuka hanya memberi informasi yang Kinanti sudah tahu sedari tiga jam lalu. DragonSlayer tidak aktif, tidak di dunia maya, tidak di dunia nyata.
Padahal untuk pertemuan ini, Kinanti sengaja bersolek. Kacamata berframe gelap diganti lensa kontak coklat muda. Dia pun mengenakan rok dan sepatu manis. Senyum yang tadi dipasangnya di wajah, kini memudar berganti raut masam.
Dia bosan. Lebih tepatnya, Kinanti kecewa.
Memandangi seluruh penghuni kafe di jalanan ramai yang tersohor sebagai kawasan gaul itu mebuatnya kesal. Seluruh dunia sepertinya bahagia, kecuali dia.
Lihat saja wanita cantik yang duduk di meja sebelah. Dia tertawa bahagia akibat lelucon wanita lain yang bersamanya. Di pojok ruangan, sepasang muda-mudi saling berpelukan mesra. Di dekat pintu masuk, yang sedari tadi dipelototinya, ada sekelompok remaja yang tengah berbincang seru. Tapi tidak demikian dengan Kinanti. Dia hanya sendiri di meja untuk empat orang, dengan sebuah notebook di hadapannya.
Bosan menunggu, Kinanti pun memanggil pelayan, yang dari tadi terus meliriknya dengan wajah khawatir.
“Mbak, tolong bonnya,” ujar Kinanti.
“Temannya nggak jadi dateng, mbak?” tanya si pelayan.
“Nggak tahulah, bonnya aja deh, saya mau pulang,” jawabnya.
“Oh, oke. Tunggu ya mbak,” sahut pelayan itu, sembari bergegas pergi.
Kinanti menarik napas panjang. Dia tidak pernah menyetujui kopi darat sebelumnya. Dia memang selalu membedakan dunia maya dan dunia nyata. Baginya orang-orang yang ditemuinya di dunia maya, tidaklah nyata. Berbeda dengan teman-teman lain, itupun kalau bisa disebut teman. Tapi berbeda dengan DragonSlayer. Dia memberi Kinanti perasaan berbeda, menimbulkan rasa ingin bertemu yang menggebu. Hingga Kinanti pun bersemangat merancang pertemuan ini, walaupun berakhir muram.
“Mbak, ini bonnya. Semuanya Rp57.500,-“.
Tanpa terganggu dari lamunannya, Kinanti mengeluarkan dompet dan memberi beberapa lembar rupiah pada si pelayan. Dia pun lalu bergegas pergi, keluar dari café.
——
Malamnya, notebook Kinanti berkedip. Ada email masuk.
From : dragonslayer@mail.com
To : kidnappedprincess@mail.com
Subject : sorry
Hi princess…sori, aku tadi nggak dateng ke café. Ada urusan mendadak. Lain kali kita janjian lagi. Reach me from e-mail only.
Bye,
DS
Kinanti sebal membaca e-mail itu. Nadanya begitu dingin. Padahal DragonSlayer yang dia kenal tidak seperti itu. Posting di blog-nya selalu hangat, begitu juga ketika mereka saling sapa di IM ataupun plurk. Bahkan terkadang mereka saling bertukar cerita, melengkapi postingan masing-masing. Semuanya selalu tentang dongeng putri dan pembasmi naga. Dongeng favorit Kinanti dari kecil dulu, hingga sekarang.
Memandangi notebooknya, Kinanti melamun. Menyusuri cerita-cerita yang dibuatnya bersama sang pembasmi naga.
Kinanti selalu membayangkan dirinya adalah putri yang diculik penyihir jahat, terkurung di menara tinggi dengan naga besar dan sakti yang menjaga pintunya. Di satu-satunya jendela menara, sang putri akan melantunkan kidung sedih yang kemudian terbang jauh di bawa angin hingga ke telinga ksatria gagah. Sang ksatria, yang terpikat suara merdu akan mencarinya, membasmi naga, mengalahkan penyihir jahat, lalu menyelamatkannya. Seperti di semua dongeng, putri dan ksatria pun hidup bahagia selamanya.
Versi lain, Kinanti adalah putri merana jauh di pedalaman gunung, dimana naga bermulut api hidup. Desanya miskin akibat naga yang kerap meminta upeti makanan ataupun perempuan muda untuk menemaninya. Namun, para perempuan yang ketakutan membuat naga kesal sehingga menyembur mereka dengan api. Kinanti, adalah perempuan muda terakhir yang dimiliki desa. Untuk menyelamatkannya, para penduduk berusaha menyelundupkan Kinanti keluar desa. Kinanti pun berusaha mencari pertolongan lewat seorang pengembara berpedang. Singkat cerita, sang pengembara, yang ternyata adalah pemburu sakti berhasil membunuh naga jahat dan membantu mengembalikan kemakmuran desa. Di cerita ini, keduanya pun hidup bahagia.
Tapi, semua cerita itu hanya imaji. Fantasi. Bukan hal yang nyata. Begitu juga dengan DragonSlayer. Mungkin kisah mereka berdua pun harus berakhir.
——
From : kidnappedprincess@mail.com
Subject : the end
Aku bikin versi baru cerita putri dan pembasmi naga. Ada di attachment. Baca kalau sempat.
PS: Putri tidak lagi membutuhkan ksatria untuk lepas dari naga dan penyihir jahat.
Cheers,
princess
attachment
kenapa putri tidak butuh ksatria.doc
—–
Resa termangu memandangi layar PC di hadapannya. Email yang baru masuk beberapa menit lalu membuatnya gelisah. Di satu sisi, dia penasaran dengan isinya. Di sisi lain, dia harus melupakan sang putri dalam impian. Namun, tangannya gatal. Dia pun menggerakkan mouse ke bawah, meng-klik tombol download dan menunggu sesaat sebelum layar komputernya menampilkan barisan kalimat.
Sang putri memandang bulan yang terlihat di birai jendela. Ada semangat baru di matanya. Dia tidak lagi gentar dengan naga hitam di balik pintunya ataupun penyihir jahat yang mengurungnya di menara tinggi di atas gunung.
Malam ini, dia akan keluar dari menara. Dia akan merebut kembali kebebasannya, mengalahkan naga dan penyihir lalu pulang ke negerinya. Tak perlu lagi ksatria berpedang yang melindunginya.
Seperti kebiasaannya, sang putri membuka jendela lalu mulai melantunkan sebuah lagu. Namun kali ini, bukan kidung pilu, melainkan nyanyian syahdu, tentang malam, tentang mimpi. Dia tahu, suaranya punya kekuatan magis. Bila suaranya mencerminkan hatinya yang sedih, dunia ikut bersedih, langit mendung dan meneteskan hujan. Saat gembira, dunia pun berubah ceria. Matahari bersinar, bunga bermekaran dan semua binatang menari. Sementara, saat dia bernyanyi lembut, dunia akan tertidur, terbuai mimpi, seperti saat ini.
Dengkuran keras di balik pintu membuat sang putri yakin naga itu tertidur pulas.Dia pun berjalan berjingkat, dengan cepat menuruni tangga menara. Tidak lupa, dia terus bersenandung lembut, membiarkan dinding menara menyerap dan memantulkan suaranya. Di ujung tangga, dia melihat sang penyihir terlelap di singgasananya. Tongkat sakti yang biasa digenggam, tergolek di bawah kakinya. Tanpa suara, putri mendekati tongkat itu, mengambil batu cahaya kristal milik negerinya lalu berjingkat keluar dari menara. Menuju kebebasan.
Butuh dua hari sebelum putri kembali ke negerinya. Negeri yang dulu makmur, kini gelap dan dingin. Kristal cahaya di kantungnya semakin bersinar saat dia mendekati istana yang kini gulita, kehilangan cahaya. Putri melangkah mantap ke balairung istana, tempat cawan cahaya disimpan, dengan hati-hati dia meletakkan kristal itu yang dengan segera memancarkan cahaya terang benderang. Membangunkan seluruh negeri dari gelap tak berkesudahan dan membawa kembali senyum ke seluruh penduduknya.
Tiga kali Resa membaca cerita pendek itu. Dia terpana. Itu bukan tulisan Princess. Kisah-kisah Princess selalu penuh fantasi dan ceria, seperti khayalan gadis remaja. Namun kisah kali ini bukan lagi dongeng. Ini bagaikan babak terpisah dongeng putri dan ksatria pembasmi naga. Tidak ada lagi kisah romantis ksatria menyelamatkan putri. Tidak ada adegan lagi pedang melawan dari api dan mantera. Tidak ada cerita bahagia selamanya. Sang putri menyelamatkan negerinya sendiri, tanpa ksatria.
Cerita itu bagaikan sebuah pesan. Bahwa dongeng putri dan pembasmi naga harus berakhir. Resa tahu itu. Namun, tetap saja ada sedikit rasa sesal.
Seharusnya, hari itu Resa menyapa sang putri. Dia sudah memerhatikan gadis itu sedari memasuki pintu café. Rambutnya panjang terurai hingga punggung, hitam. Matanya coklat, mungkin pengaruh lensa kontak. Tapi bukan itu yang membuat Resa yakin perempuan itu adalah Princess. Binar di matanya yang mengungkap sejuta fantasi itu yang membuat Resa begitu yakin. Princess memang seperti bayangannya.
Perempuan itu duduk di dekat jendela, memesan segelas es teh dan kudapan ringan. Dia lalu menyalakan notebook dan memandangi jendela, mungkin berkhayal.
Resa tidak membiarkan teman-temannya mengurusi perempuan itu. Dialah yang mengurus semua pesanan, mulai awal perempuan itu duduk hingga akhirnya dia meminta bon. Sebenarnya ujung lidahnya sudah gatal ingin berterus-terang bahwa dialah DragonSlayer, pelengkap mimpi-mimpi KidnappedPrincess, penyelamat sekaligus pelindung. Ksatria yang selalu ada di setiap kisah sang putri, tapi tidak kali ini.
Resa tidak ingin menghancurkan bayangan sang putri akan ksatria tampan berpedang yang menunggang kuda gagah, menembus hutan belantara, mengalahkan naga demi menyelamatkan putri impian. Resa tidak ingin perempuan yang melengkapi imajinasinya tahu, ksatrianya, adalah perempuan.



2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]