Ini cerita tentang aku.
Rumput yang mencintai angin.
Jika ditanya awalnya, aku tak tahu darimana harus memulai. Cerita ini sudah setua kehidupan, karena kisah cintaku abadi, seperti sejak mula aku dan kamu diciptakan. Yang aku tahu, aku mencintai kamu. Aku mencintai belaian lembutmu sesaat setelah embun membasuh tubuhku dan matahari menghangatkan tanah tempatku berpijak. Saat itulah, kamu datang. Berhembus pelan, mengajakku menari dalam sapuanmu yang lembut. Lama-kelamaan, hembusanmu menguat, kamu membuatku bergoyang. Kendati saat siang menjelang, kamu akan pergi membiarkanku sendiri tersiram terik. Barulah di saat matahari bergeser, kamu datang, meniupkan asa dan membuatku kembali bergoyang.
Kamu memberiku keriaan dan menyuntikkan semangat kebebasan yang bukan merupakan bagian dariku. Aku terikat pada tanah. Meski tercerabut, aku akan kembali menggenggam tanah, dimana kehidupanku bermula. Bukannya aku membenci tanah, tapi hadirmu membuatku sedikit bebas. Dan karena itu aku mencintaimu. Continue reading