Rumput Yang Jatuh Cinta Pada Angin

Ini cerita tentang aku.

Rumput yang mencintai angin.

Jika ditanya awalnya, aku tak tahu darimana harus memulai. Cerita ini sudah setua kehidupan, karena kisah cintaku abadi, seperti sejak mula aku dan kamu diciptakan. Yang aku tahu, aku mencintai kamu. Aku mencintai belaian lembutmu sesaat setelah embun membasuh tubuhku dan matahari menghangatkan tanah tempatku berpijak. Saat itulah, kamu datang. Berhembus pelan, mengajakku menari dalam sapuanmu yang lembut. Lama-kelamaan, hembusanmu menguat, kamu membuatku bergoyang. Kendati saat siang menjelang, kamu akan pergi membiarkanku sendiri tersiram terik. Barulah di saat matahari bergeser, kamu datang, meniupkan asa dan membuatku kembali bergoyang.

Kamu memberiku keriaan dan menyuntikkan semangat kebebasan yang bukan merupakan bagian dariku. Aku terikat pada tanah. Meski tercerabut, aku akan kembali menggenggam tanah, dimana kehidupanku bermula. Bukannya aku membenci tanah, tapi hadirmu membuatku sedikit bebas. Dan karena itu aku mencintaimu. Continue reading

Dongeng Putri dan Pembasmi Naga

Kinanti memandangi gelas kosong di hadapannya. Beberapa jam lalu, gelas itu penuh dengan cairan keemasan yang menandaskan dahaga, namun kini dasar gelas yang bening memantul kembali padanya. Begitu juga semangat menggebu yang tadi melingkupinya.

Hari ini Kinanti seharusnya bertemu seseorang. Seorang pria, yang selama ini hanya dikenalnya lewat dunia maya, entah itu IM chat, friendster, facebook, plurk, blog, sebut saja semuanya. Hari ini, seharusnya pria itu menjelma nyata. Namun, tiga jam berlalu begitu saja. Notebook berlayar 12 inchi yang setia menemani Kinanti berkedip-kedip, tanpa memberi satupun kabar bahagia. Semua laman pertemanan, chatting, serta blog yang dibuka hanya memberi informasi yang Kinanti sudah tahu sedari tiga jam lalu. DragonSlayer tidak aktif, tidak di dunia maya, tidak di dunia nyata.

Padahal untuk pertemuan ini, Kinanti sengaja bersolek. Kacamata berframe gelap diganti lensa kontak coklat muda. Dia pun mengenakan rok dan sepatu manis. Senyum yang tadi dipasangnya di wajah, kini memudar berganti raut masam.

Dia bosan. Lebih tepatnya, Kinanti kecewa.

Memandangi seluruh penghuni kafe di jalanan ramai yang tersohor sebagai kawasan gaul itu mebuatnya kesal. Seluruh dunia sepertinya bahagia, kecuali dia.

Continue reading

..Catatan akan sebuah ketololan..

Aku memandang matamu hanya untuk menemukan bayangku tak lagi terpantul di sana

Aku mengirim berbaris pesan hanya demi mendapati dinginnya balasmu

Aku bertahan melawan luka hanya untuk menemui nestapa

Aku berpegang harap hanya demi mendapatinya kandas

Dan aku disini, masih berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak ada lagi kita

..Catatan akan sebuah ketololan..
Januari 2009

Selinting Ganja dan Semangkuk Cinta

Kamar itu gelap seperti biasanya. Ola pun berusaha membiasakan matanya dengan suasana kamar yang pekat. Samar-samar tercium asap ganja. Dia menarik napas panjang, lalu melangkahi tumpukan baju yang berserakan. Samar-samar, dia menangkap sesosok tubuh di sudut kamar, terbaring damai. Nafasnya terdengar teratur, pelan. Dia menuju sebuah meja lalu menaruh bungkusan berisi makanan yang tadi dibelinya saat perjalanan pulang. Gemerisik plastik pembungkus terdengar begitu nyaring, Ola refleks menoleh ke belakang dan melihat lelaki itu masih terlelap.

Dia kemudian melangkah berjingkat menuju pintu, sembari memunguti baju-baju yang berserakan di sekitar kakinya, ketika suara yang dalam dan sedikit serak, mengagetkannya.

“Ola?” tanya lelaki itu, tanpa merubah posisinya. Continue reading

perasaan

saya tidak suka ketika orang mengatakan perempuan kerap mengatasnamakan perasaan terhadap semua jenis persoalan. Kenapa saya tidak suka? karena saya termasuk orang yang logis.  Perempuan dan perasaan adalah generalisasi dan saya tidak suka digeneralisasi.

Tapi, ada kalanya saya terseret generalisasi dan berpikir dengan perasaan. Seperti saat ini. Ketika emosi saya teraduk hanya dengan sebaris kalimat. ya..mungkin saya logis…

Tapi, saya tetap perempuan.

Saat seperti ini adalah saat ketika saya membenci diri sendiri

Bunga Tidur

kamu datang kembali di mimpiku..

menebar bunga saat ku terlelap

aku tak ingin terjaga dan mendapatimu menghilang..

biarkan aku tetap terlena

menjauhlah matahari…agar malam tetap di sini dan mimpi terus membuaiku, bersamamu..

Kebon Sirih, Januari 2009

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.