Hubungan Tanpa Status

Ini adalah sepenggal perbincangan saya dengan seorang teman, beberapa waktu lalu:

Teman: Mbak, menurut lo, hubungan tanpa status itu apa?

Saya : hah?!! Apa ya?? Kenapa tiba-tiba tanya ini?

Teman: nggak ada apa-apa kok, cuma pengen tahu pendapat lo aja

Saya : oh, bisa nanti jawabnya?

Teman: oke. Nanti kasi tahu gue pendapat lo gimana.

*****

Setelah percakapan itu, saya sempat terdiam, berpikir. Entah kenapa pertanyaan yang terdengar sepele itu, sangat sulit untuk saya jawab. Padahal, seumur hidup, saya adalah praktisi hubungan tanpa status. Hampir setiap hubungan yang saya miliki, dengan laki-laki, diwarnai ketidakjelasan status.

Kadang itu tidak menjadi soal bagi saya, karena yang penting adalah kasih sayang yang ada dalam hubungan itu. Begitu kan? Tapi, di lain kesempatan, ketidakadaan status itu membuat saya gamang. Bingung bagaimana harus bersikap, ragu untuk mengambil tindakan, yang akhirnya berujung pada pertengkaran, rasa sakit, atau lebih parah lagi perpisahan.

Ya, saya memang bisa dibilang punya pengalaman yang cukup soal HTS. Tapi, entah kenapa, ketika ditanya esensi dari bentuk hubungan itu, saya hanya bisa terdiam.

Saya jadi ingat. Pertama kali saya mengalami hubungan jenis ini ketika saya menyukai teman sekelas. Waktu itu saya kelas 2 SMP. Rasanya menyenangkan bisa mengobrol dengannya ketika istirahat atau sepulang sekolah. Ada debar dan rasa gelenyar yang hangat di perut ketika dia menggenggam tangan saya. Pun saat dia memaksa mengantar saya pulang. Tapi, kami berdua tidak pernah membicarakan status. Tidak ada kata-kata romantis ala anak SMP tahun 90-an. Tidak ada aku-suka-kamu atau kita-jadian, yang ada hanya rasa nyaman karena bisa bersama.

Sayang, kami pisah kelas di tahun terakhir. Hubungan kami jadi renggang. Saya hanya bisa bertemu dengannya di perpustakaan atau saat pelajaran olahraga. Itupun hanya sebentar. Tidak ada lagi obrolan hangat, tidak ada lagi pandangan malu-malu. Yang tersisa hanya sapaan canggung dan sekilas pandang saat bertemu. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar dia memacari seorang adik kelas. Hubungan kami pun berakhir. Tetap, tanpa kejelasan.

Kasus dua, terjadi ketika saya SMA. Sewaktu masih jadi anak baru, saya jatuh cinta pada senior. Orangnya luar biasa menarik, dengan binar mata bandel dan senyum yang tidak bisa ditolak. Oh ya, saya mengejarnya. Saya memujanya bagai anak anjing memuja majikannya. Saya bergabung dengan setiap ekstrakulikuler yang diikutinya. Saya hanya ingin lebih dekat dengannya setiap saat, kendati saya tahu saya dimanfaatkan. Tapi saya tidak peduli. Berada di dekatnya membuat saya bahagia.

Kemudian, saya bertemu dengannya. Pria pertama yang bisa merampas hati saya, dan memberikan miliknya sebagai ganti. Pria yang menjadi ksatria di hati saya. Dengan pria ini, saya memiliki apa yang disebut hubungan. Saya bisa berkata pada dunia, inilah kekasih saya. Dia membuat saya bahagia, sekaligus memberi saya luka. Tapi saya jatuh cinta dan tidak peduli apapun, meski hubungan kami ditentang semua orang. Tapi, hubungan berstatus yang penuh gairah inipun kandas. Saya menangis, saya jatuh, saya hancur. Dia pergi, bahagia bersama wanita lain. Sementara saya mencoba berdiri, kendati limbung.

Dan disitu saya terjebak hubungan tanpa status lainnya. Pertemanan yang berubah menjadi percintaan memang berbahaya. Saya tahu, kami berdua tidak akan pernah bisa bersama. Kami terlalu berbeda. Tapi saya tidak bisa menolak daya tariknya. Saya dan dia bagai dua kutub magnet yang berlawanan, saling menarik.

Tapi, kami saling memahami, tanpa harus berkomunikasi. Ada kenyamanan yang tak terkatakan dalam diam. Kami hanya perlu saling memandang dan mengerti. Tapi hanya sampai disitu. Sisanya konflik. Tanpa kejelasan status, terlalu banyak perdebatan yang terjadi. Kami pun saling melukai, hingga akhirnya saya dan dia memilih mundur dan melakukan gencatan senjata.

Rasa itu tetap ada. Mendengar namanya, rasa rindu meluap keluar tak terbendung. Saya selalu ingat kalimat yang pernah dia bisikkan, “diantara kita selalu ada unfinished business”. Dan ya, hingga kini urusan itu masih belum selesai.

*****

Sekali lagi saya memikirkan pertanyaan itu. Menganalisisnya. Berusaha mencari jawaban dari pengalaman yang saya miliki. Tapi tetap, otak ini buntu. Tak ada sebentuk pun kalimat keluar untuk menjawab pertanyaan itu. Hubungan tanpa status bagi saya tetaplah misteri. Ada tantangan di dalamnya, ada petualangan dan percikan api yang siap membakar. Tapi di situ juga ada tangis, perih dan luka. But it’s worth it, even when you broken in the end.


About this entry