Sepi

Teman sekamarku pergi. empat hari. Rasanya sih, biasa. tapi, somehow..ketika pulang kembali ke kamar kecil itu, menjelang subuh, entah kenapa, terasa sepi. Sekarang memang ada TV, pygma pun tetap setia bernyanyi. Tapi, nggak ada yang menanggapi obrolan malam nan nggak penting itu. Paling-paling stabi mengeong, cari perhatian.

Sisanya…

suara TV, lagu-lagu dari pygma, atau suaraku yang mengulang nyanyian dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

sepi…karena aku sendirian. (kucing putih ganas itu, nggak ikut diitung)

kalau sudah begini, aku pasti ingat kamu.

semua malam bersamamu, meski tanpa kata

entah mengapa terasa penuh

aku merindukan segelanya

kamu dan waktuku bersamamu

ingin kembali ke masa itu

ingin mengulang cerita

tapi aku teringat luka,

darah, nanah, dan perih yang tak kunjung reda

rasa rindu pun sontak tertahan

usai sudah waktuku bersamamu

sudah selesai cerita kita

kini aku harus berjalan….sendiri

mungkin,

ada bahagia di ujung sana

mengutip Paulo Coelho… “i may not happy, but i’m content”

–and that’s my life right now–


About this entry