Calon Istrimu
Aku mencoba tetap diam. Membiarkan rasa pedih yang mengiris terbang bersama angin. Tapi, tetap saja, sedikit perih menyelusup. Membuat air mata mengancam tumpah.
Tapi, tidak!
Aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Tidak akan menumpahkan air mata lagi. Apalagi karena laki-laki.
Jadi, aku tetap berdiri diam. Memandangi punggungmu yang terus berlalu, bersama wanita itu.
Kamu tersenyum. Dan dalam sekejap hatiku luluh. Padahal, kamu tidak minta yang aneh-aneh. Tidak ada mawar berserakan, tidak ada lilin berkerlipan, tidak ada juga lagu romantis berbisikan. Tapi aku tahu, hatiku hangat. Jatuh cinta pada senyum semanis madu, yang tersungging lebar di bibirmu.
Pertemuan pertama itu selalu terkenang. Karena sejak itu, kamu selalu mencari-cari alasan untuk menemuiku. Menyeretku keluar dari meja dan tumpukan pekerjaan yang sering membuat kepalaku pening. Kamu membuatku tertawa, memberi suara di hari-hari sunyi, menyinarkan matahari kala gelap mengancam datang. Denganmu aku hidup.
Satu, dua, tiga bulan berlalu. Kamu tetap bercokol disitu. Sedikit demi sedikit menyusup semakin dalam. Bagai candu, kamu membuatku tergantung. Tak bisa hidup tanpa senyummu. Tak mungkin memejamkan mata tanpa suaramu. Tak lagi tenang tanpa hadirmu. Aku terjebak, buta dalam cinta.
Tapi, kata-kata pengikat itu tak juga keluar dari bibirmu. Semuanya stagnan. Kamu bilang ini hubungan serbadewasa, tidak perlu kata-kata sakti yang menjadi bukti ikatan. Tidak perlu ada hitam di atas putih. Aku pun menurut. Karena bagiku pun, yang terpenting adalah hadirmu.
Tapi, entah sejak kapan, semuanya berbalik. Aku, tampaknya bukan lagi pusat duniamu. Aku bukan bidadarimu. Aku hanyalah aku, wanita yang pada satu waktu melintas di jalanmu. Dalam hati aku tahu, hal ini akan terjadi. Tapi aku menolak untuk menyadarinya. Menolak keluar dari kepompong kenyamananku. Menolak pergi darimu.
******
Hari ini, tamparan keras mendera wajahku. Bukan. Bukan dalam arti harfiah. Bukan tanganmu yang mendarat di pipiku. Tapi, kenyataan yang langsung terpapar di depan mata.
Kamu.
Kamu yang dulu begitu berarti. Kamu yang dulu mengisi duniaku. Kamu yang dulu memenuhinya dengan tawa. Kamu yang dulu membuatku begitu hidup. Kini membelah hatiku dengan pisau bergerigi. Menyayatnya tanpa iba, lalu menghempasnya. Menginjaknya. Meratakan dengan tanah, lalu berlalu.
Sekuat tenaga aku mencoba menghalau semuanya. Sekuat tenaga aku berusaha berlogika. Mencari pembenaran akan sikapmu.
Tapi, tidak ada kata-kata pengiburan dari mulutmu. Tidak ada pembelaan keluar dari bibir yang pernah membuatku jatuh cinta. Hanya ada satu kalimat, yang membuatku tenggelam dalam darah.
Perempuan itu, yang tidak aku kenal sebelumnya, yang tidak aku ketahui keberadaannya, yang bahkan tidak berani aku pikirkan, berdiri di hadapanku. Tersenyum begitu manis, saat menyalami tanganku yang kini dingin. Perempuan itu, calon istrimu, bahkan memelukku hangat, sebelum berbalik dan membawamu pergi.
Kamu.
Menoleh pun tidak. Aku hanya sempat menatap secercah kerlip di kedalaman matamu. Entah memiliki arti apa. Yang aku tahu hanya satu. Saat itu kamu sama sekali tidak tersenyum. Hanya melangkah pergi. Meninggalkanku sendiri, berdiri sepi bersama angin.
PS: cerita ini didedikasikan untuk seorang perempuan yang datang ke kamarku siang tadi, dan berbagi sedikit cerita.
July 22, 2008 at 3:04 pm
Ih cerita apa sih ini..meminjam judul lagu afgan, Sadis…
Sedih ah..bacanya..tapi kok kayanya gw pernah mengalami hal ini ya..(amnesia)
July 25, 2008 at 11:15 am
mungkin kah perempuan itu korban KDPRT juga? alias Kekekrasan Dalam Pra Rumah Tangga…
July 28, 2008 at 6:20 am
owh…..
sakit sakit sakit…
neng….
tabahlah!!!
August 1, 2008 at 9:47 am
ih cerita paan seh.. :p
ketawa bc komennya maya..