Lost

Pernah berfikir menjadi orang lain? I do…

Orang bilang, saya punya kepercayaan diri yang begitu tinggi. Saya berani, saya tidak takut ambil resiko. Padahal, itu hanya topeng. Karena, saya takut. Jujur.

Terkadang, saya terlalu takut menghadapi dunia. Sampai akhirnya, saya memilih topeng mana yang paling tepat untuk menghadapi apapun di luar sana.

Lalu, apakah itu menjadikan saya sebagai orang dengan banyak kepribadian??

Lalu, apa itu artinya jiwa saya sakit?

Lalu, apa artinya itu saya butuh terapi?

Saya bukan orang yang moody…

Mood saya tidak berubah dengan cepat. Kadang saya malah bisa menekan emosi sampai datar sama sekali.

Lalu, apa itu artinya saya berbeda?

Sungguh..

Sekarang pun saya merasa tersesat. Tidak tahu diri ini mau saya bawa kemana.

Rasanya, saya tidak punya topeng yang tepat untuk keadaan ini.

Saya hanya mencoba berpikir positif, bahwa semua ini akibat PMS.

Ya, semoga saja begitu..

Semoga gelap di hati ini tak berubah semakin pekat, kemudian merampas jiwa saya yang kian rapuh. Saya belum ingin hilang. Masih banyak yang harus saya lakukan.

Sepi

Teman sekamarku pergi. empat hari. Rasanya sih, biasa. tapi, somehow..ketika pulang kembali ke kamar kecil itu, menjelang subuh, entah kenapa, terasa sepi. Sekarang memang ada TV, pygma pun tetap setia bernyanyi. Tapi, nggak ada yang menanggapi obrolan malam nan nggak penting itu. Paling-paling stabi mengeong, cari perhatian.

Sisanya…

suara TV, lagu-lagu dari pygma, atau suaraku yang mengulang nyanyian dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

sepi…karena aku sendirian. (kucing putih ganas itu, nggak ikut diitung)

kalau sudah begini, aku pasti ingat kamu.

semua malam bersamamu, meski tanpa kata

entah mengapa terasa penuh

aku merindukan segelanya

kamu dan waktuku bersamamu

ingin kembali ke masa itu

ingin mengulang cerita

tapi aku teringat luka,

darah, nanah, dan perih yang tak kunjung reda

rasa rindu pun sontak tertahan

usai sudah waktuku bersamamu

sudah selesai cerita kita

kini aku harus berjalan….sendiri

mungkin,

ada bahagia di ujung sana

mengutip Paulo Coelho… “i may not happy, but i’m content”

–and that’s my life right now–

Calon Istrimu

Aku mencoba tetap diam. Membiarkan rasa pedih yang mengiris terbang bersama angin. Tapi, tetap saja, sedikit perih menyelusup. Membuat air mata mengancam tumpah.

Tapi, tidak!

Aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Tidak akan menumpahkan air mata lagi. Apalagi karena laki-laki.

Jadi, aku tetap berdiri diam. Memandangi punggungmu yang terus berlalu, bersama wanita itu.

Continue reading

R.I.P

ucapkan duka cita

karena semangatku mati hari ini

Juli 2008

Gelap

it’s dark in here, my love

aku tak dapat melihat apapun

tidak juga dirimu

gelap..gelap

hanya ada pekat

aku bahkan tak mendengar suara

sunyi dan angin berembus dingin

dimana kamu?

aku terus berteriak dalam gelap

sampai putus suara, hingga tinggal serak

tapi, tetap tak ada kamu

hati-hati..

aku menapak satu-persatu

meraba dalam gelap tak berkesudahan

mencoba meraih tanganmu,

jauh aku melangkah

tetap hadirmu tak kujumpa

dimana kamu!

gelap di sini, sayang

dan aku sendiri

suram, sunyi

hanya ada hitam

dimana kamu…

aku menjerit! menyerukan namamu

aku merintih! merindukan hadirmu

aku terisak, kesepian tanpamu

it’s dark in here, my love

datanglah, selamatkan aku

dimana kamu?

Sex on High Heels

Ada satu quotes dari Madonna yang selalu saya ingat mengenai kecintaannya terhadap sepatu. Dia bilang, “Manolo Blahnik’s shoes are as good as sex”, dan hal itu langsung terpatri dalam ingatan saya.

Lagipula, saya memang fetish sejati. Saya punya kegilaan tersendiri terhadap sepatu. Setiap kali melintas di department store, pasti section sepatu tidakpernah lupa saya sambangi. Bahkan, tidak jarang, ketika pulang saya menenteng tas berisi satu atau dua pasang sepatu sekaligus.

(Mantan) kekasih saya selalu geleng-geleng kepala tiap kali mendapati saya sedang kebingungan, memilih berbelas-belas pasang sepatu yang berserakan di sekitar kaki saya. Bukan hanya dia, ibu saya pun seringkali kesal dengan kebiasaan ini.

Pasalnya, banyak dari sepatu-sepatu yang saya beli hanya berakhir di lemari sepatu di bawah tangga. Tidak tersentuh. Hanya menjadi barang koleksi semata. Tapi, saya tidak juga puas. Sepatu selalu membuat saya lapar. Apalagi yang memiliki hak-hak tinggi nan runcing itu. Yes dear, stiletto is my lust. Continue reading

Pelita

Wahai gadis..

Kenapa kau berdiri di bibir ngarai?

Wahai gadis..

Mengapa wajahmu begitu sendu?

Wahai gadis..

Untuk siapa air mata itu?

Apakah hidup sudah terlalu berat untukmu, ataukah cinta yang memudarkan senyum di wajah manismu?

Wahai gadis..

Katakan padaku apa yang membuatmu galau

Tenang gadis…jangan kau mundur terlalu jauh

Aku tak ingin kau terhempas jatuh, lalu terlibas deras air sungai

Aku hanya ingin membantumu

Meredakan risau jiwamu

Mengentaskan segala suram

Jika bisa, aku ingin membawa pelita

Lalu kutaruh di pangkuanmu

Agar berbias sinar dan menerangi wajahmu

Wahai gadis..

Sambutlah tanganku, jangan kau tepis

Wahai gadis..

Biarkan muram sirna bersama malam

Biarkan perih terbang bersama angin

Biarkan getir mengalir bersama hujan

Wahai gadis..

Kembalilah tersenyum, kembalilah bersinar

Karena bagiku, kaulah pelita

Kebon Sirih, Juli 2008

Rindu

Selamat ulang tahun. Hanya kalimat singkat itu yang aku kirimkan lewat pesan singkat dari ponsel.

Namun, kalimat biasa itu mengandung semua rasa rindu yang aku punya. Malam ini, saat usiamu bertambah, ingin aku ada di sana, di sisimu. Memberimu pelukan hangat, mungkin sebuah kecupan, untuk melengkapi ucapan selamat yang singkat itu.

Tapi kenyataannya, kamu di sana dan aku di sini. Menahan rindu yang meluap, yang muncul hanya dari barisan angka yang tertera di phonebook ponselku. Angka-angka itu, sebenarnya bisa dengan mudah menghubungkanku denganmu. Hanya lewat satu tombol saja, dan aku bisa mendengar suara beratmu lagi. Satu tombol, yang bisa membantuku mengentaskan rindu ini.

Aku bertahan sayang. Tombol itu tidak kutekan. Tapi aku menekan rinduku, membiarkan sakitnya menyebar ke seluruh tubuhku. Meresapi pedih yang menyelusup perlahan dalam darahku. Menikmati rindu yang tak terlampiaskan. Menikmati memori tentangmu, lalu bercinta dengan kata.

Ah..aku merindukan malam-malam itu. Saat kau ada disampingku, memelukku sembari menceritakan hal-hal kecil yang kau temui. Aku merindukan tatap tajam matamu. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan wangi tubuhmu, yang selalu tertinggal di bantal pada pagi hari. Waktu itu, saat aku merindu, aku bisa memeluk bantal itu dan membayangkan kamu ada. Tapi tidak saat ini. Karena aku di sini dan kamu jauh di sana.

Aku tidak mengharap ada balasan yang masuk ke ponselku. Aku sudah terlalu mengerti tabiatmu. Bahkan aku mencintai kebiasaanmu yang selalu membuatku berharap cemas, menanti, kendati perih.

Hanya saja, malam ini…aku membutuhkan semua hal tentangmu. Jadi biarkan aku memeluk bayangmu dan berfantasi. Bahwa kamu, nun jauh di sana, juga sempat merindukanku. Sempat tersenyum karena kalimat biasa itu dan sempat memikirkanku. Berbekal imajinasi, aku bisa tetap tersenyum hari ini, meski desah pedih kadang tak tertahan.

Dan untuk menghalaunya pergi, aku mengembuskannya bersama asap rokok. Menikmati getir yang tertinggal di lidah dan berharap angin bisa membawa rinduku, yang tercampur asap, ke pangkuanmu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun. Jika kamu merasakan rindu ini, kirimkan satu kecupan untuk menemani tidurku. Kendati hanya dalam imaji.

you will always be a part of me
i’m a part of you indefenately
boy don’t you know you can’t escape me
Darling, ’cause you always be my baby

–Mariah Carey, Always Be My Baby–

Kurus

Kemarin, saya ditawari paket perawatan yang menarik. Tusuk jarum alias akupuntur gratis selama satu bulan penuh, yang dijamin dapat menurunkan berat badan hingga 8 kilogram. Hilang bobot delapan kilo berarti mengembalikan berat badan tubuh saya ke massa idealnya, yakni 55 kg.

Dulu, sekitar masa-masa perkuliahan, kira-kira bobot saya tidak lebih dari 55kg. Kata orang sih, sintal. Tapi, waktu itu saya masih merasa tidak puas, karena tubuh saya tidak seimbang. Besar di atas dan kecil di bawah. Aneh kan? Tapi nggak papalah, toh itu sama dengan aset pribadi :)

Saya juga merasa baik-baik saja dengan bobot itu. Tapi entah kenapa, semakin lama, berat badan rasanya kok semakin bertambah. Padahal, jika dilihat dari gaya hidup yang hancur-hancuran, yang mungkin terjadi adalah saya semakin kehilangan bobot. Tapi, malah sebaliknya, secara bertahap, berat badan saya terus naik, hingga ke bobot sekarang ini. Pffiuhhh, sebal juga rasanya. Padahal, saya bukan orang yang ambil pusing dengan masalah bobot. Tapi, baju-baju yang saya sukai dulu, tidak bisa lagi saya kenakan, dan lekuk pinggang yang dulu terlihat, sekarang tampaknya menghilang. Digantikan siluet lurus mulai pinggang ke bawah, belum lagi masalah perut yang membuncit. Sama sekali tidak indah.

Mempertimbangkan semua hal itu, dan popularitas di zaman kuliah dulu (ehemm) maka saya langsung bilang, “oke, saya ikut!” dengan antusias.

Continue reading

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.