I would never survive a broken heart

As a girl, I always like to think that I am more the user of logic than a heart-driven lady. But maybe I was looking it on one side only. Lately I realized, my heart is the ruler of me. I am the type of person who would never survive a broken heart. And if I do survive, it will involve hard struggle and the deep knowledge of Defence Against the Dark.

I must thank my one of my particular friend of this invention of emotion.

I did many mistakes in life. But this mistake prove that imperfection and wrong decision sometimes could kill.

Many years ago, in the journey of finding myself, I found out that I have a very dark nature. No need much to say, but it involves lots of emo feeling and blood. To the horror of me, my personality disorder test revealed that I am also schizotypal, beside schizoid and paranoid. I tried to accept that and struggled to find my own sun and I did. I feel normal, to the very least.

But it’s another struggle to maintain that level of normality. To the protection of me, the shield of heart was built. By then, my brain processed the most of my emotional decision. My heart is only the side note. The confirmation.

If I may say, the logical decision works best on most subject. Even the love life and such. I survived so many times from a real broken heart. I once fall, and yes, it needs years to stand on both feet again. But then again, I never know that broken heart caused by lover is easy compared to the one that caused by your friend, more if it’s by someone that you call best friend.

To cut the story short, my logic failed me, cost me the high price of friendship and I am left broken hearted.

This broken heart wrecked my shield. And the dark force is released. Emotion stirred up easily, the emo feeling streaming free, the depression is just in brink, and the thirst of blood is somewhat unbearable. I must bleed to ease the pain. Or escape to the world of fantasy, where nobody can hurt me.

No, this note is not the shout for help or a way of seeking attention. It’s just my way to struggle, my way to ease the pain and lessen the dark force. My only wish for the end of this struggle is happiness.

I always believe that happiness is not a destination. It’s a journey. Happiness is to be found along the way. And yet, I also believe that happiness is a mood, it is not permanent. It comes and goes. It is a conscious choice, not an automatic response. As Ayn Rand once said, “My happiness is not the means to my end. It is the end.”

Protected: A ship to Escape

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Kim Jong-un, Suksesor Penuh Gaya

pic: google.com

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya menjadi peribahasa yang menggambarkan suksesi pemerintahan Korea Utara. Kim Jong-un yang menggantikan sang ayah, Kim Jong-il, juga bergelar fashion icon berkat gaya rambutnya.

Bila Kim Jong-il dipuji pengamat mode sebagai ikon mode karena konsistensinya mengenakan setelan tunik berpalet khaki, putra bungsunya, Kim Jong-un menyamakan skor lewat gaya rambut. Jendral muda berusia 28 tahun itu memulai tren baru di kalangan pemuda Korea Utara lewat potongan rambut slick dengan cukuran tinggi di kedua sisi kepala di atas telinga.

Potongan rambut Jong-un langsung menjadi favorit kaum muda Korea Utara. Hal tersebut terbukti dari banyaknya antrian pemuda di tukang cukur di Pyongyang, yang meminta potongan rambut serupa sang pemimpin baru. Adapun Jong-un sendiri rupanya mengambil inspirasi gaya dari kakeknya, Kim Il-sung. Begitu pula dengan setelan ala Mao yang sangat mirip dengan busana yang kerap digunakan sang kakek.

Dalam wawancara dengan kantor berita Korea Utara KCNA, penata rambut An Su-gil mengatakan gaya rambut Kim Jong-un sekarang merupakan tren yang digemari anak muda. “Gaya rambut Kim Jong-un digemari karena menggambarkan semangat muda serta ambisi,” ujarnya. Hal serupa juga diungkapkan koran nasional Korea Utara, Rodong Sunmun menuliskan gaya rambut Kim Jong-un sebagai refleksi nafas muda Korea Utara, yang sekaligus memberikan nuansa positif dalam masa transisi pemerintahan.

Diluar napas positif yang ditebarkan Kim Jong-un lewat potongan rambutnya, para analis berpendapat bahwa inspirasi gaya Kim Il-sung yang diusung Jong-un merupakan pendekatan strategis untuk memikat hati rakyat. Malah, rumor yang beredar menyebutkan bahwa Jong-un bahkan melakukan operasi plastik untuk terlihat mirip dengan kakeknya. Telegraph menuliskan bahwa anggota termuda dari dinasti Kim tersebut sangat mirip dengan Kim Il-sung. “Dia memiliki bentuk wajah chubby sama seperti kakeknya, begitu juga dengan bentuk dagu dan garis mulut yang serupa. Jauh berbeda dengan foto remaja Kim Jong-un yang sama sekali tidak mirip dengan Kim Il-sung,” tulis Telegraph, yang ikut memastikan rumor bahwa Korea Utara ingin menjamin posisi Kim Jong-un sebagai penerus pemerintahan ayahnya dengan menjadi “reinkarnasi” sang pendiri Korea Utara.

Tapi diluar rumor yang berkaitan dengan posisinya sebagai “Dear Leader” baru di Korea Utara, Kim Jong-un adalah pemuda dengan keinginan dan hobi yang sama dengan ratusan pemuda lainnya di dunia. Sebelum dipanggil pulang ke Korea Utara, Jong-un menimba ilmu di Bern, Swiss dan merupakan penggemar olahraga basket. Bahkan beberapa temannya memberi kesaksian bahwa Kim Jong-un kerap menggambar sketsa bintang Chicago Bulls, Michael Jordan. Jong-un pun bahkan memiliki foto dirinya bersama dua pebasket bintang Kobe Bryant dan Toni Kukoc. Tidak hanya itu, Jong-un juga memiliki kecintaan tersendiri terhadap sneakers. Dikatakan sebuah sumber, Jong-un memiliki banyak koleksi sepatu Nike yang berharga USD200.

Namun dalam tampilan kesehariannya, Jong-un rupanya lebih memilih gaya sederhana, yang tidak jauh berbeda dari ayahnya. Hanya saja jika Kim Jong-il kerap menggunakan setelan tunik berwarna khaki, Jong-un lebih memilih setelan tradisional bergaya Mao dalam warna hitam, yang dilengkapi dengan sepatu platform.

*Seputar Indonesia*

The Rain, Firefighter and Hot Coffee

The weather was really bad that day. It was raining cats and dogs the whole day, but I managed to put on brave face, prayed for the best of me so my shoes won’t get wet (not working) and run into the storm.

My umbrella, which supposed to be my savior, betrayed me, and as suspected I was soaking wet within seconds. I muttered to myself ‘what the hell, I’m already wet anyway’ and continue running.

But, the cold water and the wind beat me and I was forced to look for a shelter. And there it was, a mini store terrace that looked like a piece of heaven in my eyes. Shivering like a wet cat and panting like a dog, I rest my back against the wall and examined the damage. Shoes: soaking wet, clothes: damn wet, underwear: no survivor in that department. Bag: dripping.

I let a big sigh escaped and start to regret my decision to fight up the rain when a sturdy boots suddenly appeared on my sight. I looked up and for the life of me , in front of me, standing a firefighter.

Oh man, why all firefighter are smoking hot? must be got to do with them fighting fire..

It’s gonna sounds lame, but the only firefighters I ever saw, were on telly, the American one. But this local firefighter have this x-factor of sexiness that made me drool all over the floor.

Shameless I was, I kept staring at him and then he smiled at me. Correction, we smiled at each other. No, another correction, I smiled at him and he smiled back.

But sadly, he then entered the store and my heart sank. Oh dear, no chance of introduction then. With that conclusion, another big sigh, again, escaped from me.

But, the coin is still flipping on the lucky side, he came out the store and offered me a hot coffee. Oh be still my heart.

We didn’t exchange name and phone number, only a brief smile and enjoying hot instant coffee together, but that was the best coffee ever I taste in my life.

-Cimahi, November 2011-

Perayaan Feminitas di Dewi Fashion Knights

Jakarta Fashion Week (JFW) 2012 menutup tirai panggung modenya dengan perayaan feminitas lewat pergelaran Dewi Fashion Knights.

Tahun ini Majalah Dewi menampilkan lima ksatria mode, Auguste Soesatro, Tex Saverio, Sally Koeswanto, Sapto Djojokartiko dan Sebastian Gunawan. Di pergelaran Dewi Fashion Knights yang sekaligus menutup perhelatan mode akbar Jakarta Fashion Week 2012, kelima ksatria mode tersebut menghadirkan koleksi spektakuler, pernyataan mereka atas perayaan feminitas, perayaan untuk perempuan.

Perhelatan Dewi Fashion Knights, yang selalu menjadi acara puncak JFW, tampil semakin istimewa tahun ini karena sekaligus menjadi perayaan ulang tahun kedua puluh majalah tersebut. Karenanya, barisan desainer yang dipilih Dewi pun semakin spesial. Editor-in-Chief Dewi, Ni Luh Sekar, mengatakan Sally Koeswanto dan Sebastian Gunawan, yang mewakili established designer, dipilih karena komitmen mereka terhadap inovasi, sementara ketiga desainer yang lebih muda, Auguste Soesatro, Tex Saverio dan Sapto Djojokartiko membawa nafas segar dan wajah baru terhadap dunia mode Tanah Air.

“Sejak pertama kali dihelat pada 2008, Dewi Fashion Knights telah menjadi platform untuk menunjukkan bakat dan karya terbaik dari dunia mode Indonesia,” papar Ni Luh Sekar. “Tahun ini, mengambil tema Celebrating Women, Dewi Fashion Knights ingin membawa dan meninggikan perempuan,” imbuhnya.

Maka, tidak heran bila kemudian Fashion Tent Pacific Place, yang menjadi venue utama JFW 2012, sontak disesaki tamu undangan. Mereka semua tidak sabar melihat persembahan terbaik para ksatria mode, yang bukan bersenjatakan pedang dan perisai, melainkan imajinasi.

Sebastian Gunawan membuka pertunjukkan dengan koleksi penuh warna. Terinspirasi motif apik tenun Garut, Seba yang terkenal dengan gaya lembut nan feminin, berubah provokatif. Hitam, merah, putih, ungu dan kuning tampil berbeda, lebih berani dan edgy. Di belakang Seba, giliran Auguste Soesastro yang memikat ratusan pasang mata di JFW. Mengambil tema “Restu Bumi”, desainer yang memulai karir modenya di New York tersebut bercerita tentang penyelamatan lingkungan lewat fashion.

Hampir seluruh koleksi Auguste menggunakan material alam, serat nanas. Alumni Chambre Syndicale de la Couture, Paris, itu mengatakan koleksinya diperuntukkan bagi bumi. “Industri mode itu dunia yang sangat merusak lingkungan,” ujar Auguste. “Saya, sebagai environmentalist, berusaha melakukan sesuatu, salah satunya dengan selalu menggunakan serat alam dalam setiap koleksi saya,” sambungnya. Di atas panggung JFW, berlatar alam yang tandus, Auguste menyajikan koleksi yang teduh. Simpel dalam penampilan, namun ternyata kaya detail, seperti yang selalu dia katakan, “Couture is not always about the appereance.”

Selanjutnya Sally Koeswanto menghadirkan hewan mitos burung phoenix dalam balutan fashion bergaya oriental. “Phoenix punya konotasi positif, sebagai simbol cinta dan kebahagian, di sisi lain phoenix juga merupakan representasi ratu dan wanita,” papar Sally.

Kontras dengan Sally yang membawa nafas oriental, Sapto Djojokartiko mengusung sejarah negeri sendiri, yang terinspirasi legenda Tanah Bali, cerita Calon Arang, yang dibukukan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku “The King, The Witch and The Priest”. Lewat koleksi bertema “Sang Randeng Girah”, Sapto bercerita tentang sisi mistis Bali, melalui pola dan konstruksi yang merefleksikan wajah mistis Bali secara detail, termasuk penggunaan tekstur tali tambang, rambut, paku dan peniti.

Gelaran Dewi Fashion Knights ditutup dengan koleksi avant garde besutan Tex Saverio. Desainer yang karyanya pernah digunakan Lady Gaga ini menyajikan koleksi spesial yang melibatkan seniman ukir. Warna emas menjadi kanvas imajinasi liar Tex dalam merancang, sementara bentukan malaikat dan sayap-sayap merupakan cara Tex bercerita mengenai dualisme manusia. Tema “Revelation” yang diambil Tex dari salah satu ayat dalam kitab suci itu juga menjadi bentuk pesan yang memprovokasi seluruh elemen dunia fashion, untuk melihat bahwa industri mode bukan melulu mengenai komersialitas, namun juga sebagai sebuah dunia seni, dunia imajinasi dimana fantasi mewujud nyata.

*Seputar Indonesia, 20 November 2011

Moammar Khadafi, Sang Diktator Chic

Moammar Khadafi bisa jadi dikenal sebagai diktator sadis. Namun di dunia mode, pemimpin Libya itu ternyata punya selera unik. Vanity Fair bahkan menyebutnya Dictator Chic.

Khadafi (white suit) in G8 Summit 2009 in Italy (source: google)

Untuk urusan mode, Khadafi memang terbilang nyeleneh. Dibanding pemimpin negara lain yang lebih memilih setelan resmi yang terdiri dari jas, kemeja, serta celana pantalon, Khadafi justru tampil eklektik. Contohnya saja saat G8 Summit di L’Aquila, Italia pada 2009. Diantara para pemimpin dunia yang berbusana setelan resmi, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Khadafi terlihat mencolok dengan gaya a la “Saturday Night Fever”. Sang Kolonel mengenakan setelan serbaputih lengkap dengan barisan pita tanda jasa, emblem berbentuk Afrika berwarna hijau-warna nasional Libya- serta bisht (luaran khas Arab). Tidak hanya itu, tata rambutnya pun bergaya layaknya rock star, jauh dari tatanan khas politikus yang konservatif dan serbarapi.

Continue reading

Selamat Jalan Peter Sie

Peter Sie (kiri) saat menerima Fashion Icon Award di Jakarta Food & Fashion Festival 2006 (Foto: Kompas/Arbain Rambey)

 

Dunia mode Indonesia kembali kehilangan talenta besar. Peter Sie, pelopor mode Tanah Air, menghembuskan nafas terakhir di usia 82 tahun, pada Jum’at (1/4).  Desainer bernama asli Sie Tiam Le tersebut meninggal dikarenakan usia lanjut. Staf Peter Sie Susiana Sindhakara mengonfirmasi hal tersebut.

“Lebih karena usia lanjut, usianya sudah 82 tahun. Ada dokter pribadi yang lebih mengetahuinya,” ujar Susiana, yang lebih akrab disapa Nana.

Lebih lanjut, Nana mengatakan bahwa pria yang yang memiliki buku otobiografi berjudul “Peter Sie: Mode Adalah Hidupku” itu meninggal di kediamannya, di Tebet dan kemudian disemayamkan di Rumah Duka RS Cikini. Kemudian, hari ini jenazahnya akan dikremasi di Rumah Kremasi Oasis Lestari, Tangerang.

Continue reading

L.O.V.E

what is love exactly?

is make heart bleeding to death waiting for someone called love?

is begging for someone you want the most for stay called love?

is sacrifice everything to be with someone called love?

 

when is love being true exactly?

is it when someone say I Love You for millions time a day?

is it when he willing to across the continent just to be with you?

is it when he says that you are the one and only?

 

where is love exactly?

is it lies within the words we said?

is it there when we face to face through skype?

is it lies somewhere between the huge distance that separate us?

 

…what is love exactly?

is it only the image of a pink heart?

is it only a virtue of affection and compassion?

is it only a representative of  strong feeling for someone?

 

…what is love exactly?

is being in pain for making someone to turn our way called love?

is being in agony for seeing him happy with someone else called love?

is being in misery for taking his hand in only friendship called love?

 

…ah, what is love exactly?

 

tears

If yesterday, somebody asked me, “when was the last time you cry?”, I would have a straight answer of, a long, long time ago. But,  if tomorrow, somebody ask me that question, then the answer would be yesterday.

 

Did I cry today? yes, i did

It was another ordinary night.  The air was warm, the sky was bright and I thought i was happy.

But suddenly, something odd happened. I opened the door of my room and next thing i knew, I was sitting on the carpet and burst in tears. I was crying for no reason.

And it’s not just a simple cry. It was a huge one. I sobbed, I choked, and the tears run like river on my cheek. I was crying so hard, ’till my head hurts and I couldn’t breath.

“What the fuck?!” I heard myself thinking. “Why was I cry?” was my second thought.

But even if you asked me the same questions now, i wouldn’t know the answer either. I didn’t know why I cry. I just full of tears.

Still in tears, I called one of my friend and told her that I was crying and laughing at the same time. “I feel like crazy,” I said, then choked and sobbed. She then calmly said, “Just cry it out loud, your body needs it.”

But I can’t.

I might say my thoughts out loud in public and sometimes without even think about it, but i never get emotional. To me, my emotions are my private consumption. And to think that I live in a place with thin walls, I don’t have the liberty to just cry out loud..not to mention I need to explain the reason behind my sudden histeria.

So, there was I. Crying, sobbing, laughing and talking endlessly to the patience ears of Herita Mimosa.

And after one confusing hour on a confusing mood and twisted feeling, the tears slowly dry and I was back to normal. Well, almost.

 

-Kebon Sirih, November, 9, 2010-

 

Lilin

 

 

Kampung geger.

Ada kabel listrik yang putus di Gunung Bohong dan untuk memperbaikinya, harus diadakan pemadaman. PLN wilayah Cimahi mengumumkan, listrik akan dipadamkan selama beberapa jam untuk dua hari ke depan.

Hari pertama, listrik mulai dipadamkan pukul 13.00 WIB dan kembali menyala pukul 20.00 WIB. Hari kedua listrik dipadamkan sejak pukul 11.00 WIB dan menyala pukul 22.00 WIB, hampir 12 jam.

Dua hari tanpa suplai listrik yang terus-menerus, kampung mendadak ramai. Mungkin karena terang menjadi barang langka dan gelap mendominasi kampung. Di sana-sini terlihat keredap lilin yang menyala anggun, bergoyang pelan, di balik jendela.

Saat listrik tiada, lilin, yang menjadi satu-satunya sumber cahaya pun mendadak susah ditemui. Warung-warung di kampung kehabisan stok lilin, yang pada hari biasa, saat listrik menyala, diletakkan pemilik warung jauh di belakang rak. Tapi, saat gelap datang, lilin sekonyong-konyong laku keras.

Hari itu, hari kedua pemadaman, saya harus berkeliling ke lima warung untuk mendapatkan satu kotak lilin.

Satu kotak lilin yang hanya berisi delapan batang itu, tentu saja tidak bisa menerangi seluruh rumah seperti halnya lampu neon. Tapi, di balik cahayanya yang temaram, lilin memberi kehangatan dalam beragam arti. Bukan hanya dari api yang membakar sumbu, melainkan dari hal-hal kecil yang kami lakukan di sekitar nyala lilin.

Saat listrik menyala, aku, ibu dan bapak, biasanya terpisah. Sibuk dengan kegiatan kami masing-masing; aku menjelajah internet, ibu asyik dengan sinetron dan bapak berkutat dengan laporan atau bermain game di komputer. Namun, saat lilin yang menyala, kami berkumpul di ruang depan dengan pintu rumah terbuka, bercengkrama, seru berbagi cerita, menikmati cahaya lilin sembari menyesap teh beraroma vanilla yang baru di seduh ibu. Ah..hangat.

 

 

 

Blog at WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.