Sex on High Heels

Posted in ceritaku... with tags , on July 5, 2008 by mightylesthi

Ada satu quotes dari Madonna yang selalu saya ingat mengenai kecintaannya terhadap sepatu. Dia bilang, “Manolo Blahnik’s shoes are as good as sex”, dan hal itu langsung terpatri dalam ingatan saya.

Lagipula, saya memang fetish sejati. Saya punya kegilaan tersendiri terhadap sepatu. Setiap kali melintas di department store, pasti section sepatu tidakpernah lupa saya sambangi. Bahkan, tidak jarang, ketika pulang saya menenteng tas berisi satu atau dua pasang sepatu sekaligus.

(Mantan) kekasih saya selalu geleng-geleng kepala tiap kali mendapati saya sedang kebingungan, memilih berbelas-belas pasang sepatu yang berserakan di sekitar kaki saya. Bukan hanya dia, ibu saya pun seringkali kesal dengan kebiasaan ini.

Pasalnya, banyak dari sepatu-sepatu yang saya beli hanya berakhir di lemari sepatu di bawah tangga. Tidak tersentuh. Hanya menjadi barang koleksi semata. Tapi, saya tidak juga puas. Sepatu selalu membuat saya lapar. Apalagi yang memiliki hak-hak tinggi nan runcing itu. Yes dear, stiletto is my lust. Read more »

Pelita

Posted in puisi, untai kata with tags on July 5, 2008 by mightylesthi

Wahai gadis..

Kenapa kau berdiri di bibir ngarai?

Wahai gadis..

Mengapa wajahmu begitu sendu?

Wahai gadis..

Untuk siapa air mata itu?

Apakah hidup sudah terlalu berat untukmu, ataukah cinta yang memudarkan senyum di wajah manismu?

Wahai gadis..

Katakan padaku apa yang membuatmu galau

Tenang gadis…jangan kau mundur terlalu jauh

Aku tak ingin kau terhempas jatuh, lalu terlibas deras air sungai

Aku hanya ingin membantumu

Meredakan risau jiwamu

Mengentaskan segala suram

Jika bisa, aku ingin membawa pelita

Lalu kutaruh di pangkuanmu

Agar berbias sinar dan menerangi wajahmu

Wahai gadis..

Sambutlah tanganku, jangan kau tepis

Wahai gadis..

Biarkan muram sirna bersama malam

Biarkan perih terbang bersama angin

Biarkan getir mengalir bersama hujan

Wahai gadis..

Kembalilah tersenyum, kembalilah bersinar

Karena bagiku, kaulah pelita

Kebon Sirih, Juli 2008

Rindu

Posted in ceritaku..., untai kata with tags on July 4, 2008 by mightylesthi

Selamat ulang tahun. Hanya kalimat singkat itu yang aku kirimkan lewat pesan singkat dari ponsel.

Namun, kalimat biasa itu mengandung semua rasa rindu yang aku punya. Malam ini, saat usiamu bertambah, ingin aku ada di sana, di sisimu. Memberimu pelukan hangat, mungkin sebuah kecupan, untuk melengkapi ucapan selamat yang singkat itu.

Tapi kenyataannya, kamu di sana dan aku di sini. Menahan rindu yang meluap, yang muncul hanya dari barisan angka yang tertera di phonebook ponselku. Angka-angka itu, sebenarnya bisa dengan mudah menghubungkanku denganmu. Hanya lewat satu tombol saja, dan aku bisa mendengar suara beratmu lagi. Satu tombol, yang bisa membantuku mengentaskan rindu ini.

Aku bertahan sayang. Tombol itu tidak kutekan. Tapi aku menekan rinduku, membiarkan sakitnya menyebar ke seluruh tubuhku. Meresapi pedih yang menyelusup perlahan dalam darahku. Menikmati rindu yang tak terlampiaskan. Menikmati memori tentangmu, lalu bercinta dengan kata.

Ah..aku merindukan malam-malam itu. Saat kau ada disampingku, memelukku sembari menceritakan hal-hal kecil yang kau temui. Aku merindukan tatap tajam matamu. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan wangi tubuhmu, yang selalu tertinggal di bantal pada pagi hari. Waktu itu, saat aku merindu, aku bisa memeluk bantal itu dan membayangkan kamu ada. Tapi tidak saat ini. Karena aku di sini dan kamu jauh di sana.

Aku tidak mengharap ada balasan yang masuk ke ponselku. Aku sudah terlalu mengerti tabiatmu. Bahkan aku mencintai kebiasaanmu yang selalu membuatku berharap cemas, menanti, kendati perih.

Hanya saja, malam ini…aku membutuhkan semua hal tentangmu. Jadi biarkan aku memeluk bayangmu dan berfantasi. Bahwa kamu, nun jauh di sana, juga sempat merindukanku. Sempat tersenyum karena kalimat biasa itu dan sempat memikirkanku. Berbekal imajinasi, aku bisa tetap tersenyum hari ini, meski desah pedih kadang tak tertahan.

Dan untuk menghalaunya pergi, aku mengembuskannya bersama asap rokok. Menikmati getir yang tertinggal di lidah dan berharap angin bisa membawa rinduku, yang tercampur asap, ke pangkuanmu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun. Jika kamu merasakan rindu ini, kirimkan satu kecupan untuk menemani tidurku. Kendati hanya dalam imaji.

you will always be a part of me
i’m a part of you indefenately
boy don’t you know you can’t escape me
Darling, ’cause you always be my baby

–Mariah Carey, Always Be My Baby–

Kurus

Posted in ceritaku... with tags on July 3, 2008 by mightylesthi

Kemarin, saya ditawari paket perawatan yang menarik. Tusuk jarum alias akupuntur gratis selama satu bulan penuh, yang dijamin dapat menurunkan berat badan hingga 8 kilogram. Hilang bobot delapan kilo berarti mengembalikan berat badan tubuh saya ke massa idealnya, yakni 55 kg.

Dulu, sekitar masa-masa perkuliahan, kira-kira bobot saya tidak lebih dari 55kg. Kata orang sih, sintal. Tapi, waktu itu saya masih merasa tidak puas, karena tubuh saya tidak seimbang. Besar di atas dan kecil di bawah. Aneh kan? Tapi nggak papalah, toh itu sama dengan aset pribadi :)

Saya juga merasa baik-baik saja dengan bobot itu. Tapi entah kenapa, semakin lama, berat badan rasanya kok semakin bertambah. Padahal, jika dilihat dari gaya hidup yang hancur-hancuran, yang mungkin terjadi adalah saya semakin kehilangan bobot. Tapi, malah sebaliknya, secara bertahap, berat badan saya terus naik, hingga ke bobot sekarang ini. Pffiuhhh, sebal juga rasanya. Padahal, saya bukan orang yang ambil pusing dengan masalah bobot. Tapi, baju-baju yang saya sukai dulu, tidak bisa lagi saya kenakan, dan lekuk pinggang yang dulu terlihat, sekarang tampaknya menghilang. Digantikan siluet lurus mulai pinggang ke bawah, belum lagi masalah perut yang membuncit. Sama sekali tidak indah.

Mempertimbangkan semua hal itu, dan popularitas di zaman kuliah dulu (ehemm) maka saya langsung bilang, “oke, saya ikut!” dengan antusias.

Read more »

Ksatria Bergitar

Posted in untai kata with tags on June 30, 2008 by mightylesthi

Siang itu terik. Matahari memanggang bumi, memancarkan hawa panas tak terkira. Segelas es jeruk yang kuminum di kedai pinggir jalan rasanya tak cukup menepis gerah yang melanda tubuh. Berkali-kali aku mengusap peluh yang mengalir turun dan mengipasi wajah. Mataku menyipit menatap jalanan, yang kini mengkilap, memantulkan sinar sang bagas.

Aku merutuk dalam hati. Kenapa siang harus sepanas ini?. Aku membayangkan malam, yang gelap dan penuh dengan semilir angin segar. Ah, betapa aku merindukan malam dan betapa aku membenci siang.

Sekali lagi aku menggerutu. Mengaduk es yang sudah mencair di dasar gelas, lalu mengecek jam digital yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul tiga, dan matahari masih belum mau bergeser dari singgasananya. Aku menghela napas, tampaknya masih akan lama aku duduk di kedai beratap terpal ini.

Lalu, terdengar sayup denting gitar di ujung tenda. Pengamen, batinku. Entah mengapa, aku punya kekesalan tertentu pada pengamen jalanan. Buatku mereka tak lebih dari pengganggu. Dan kini, saat pria bergitar itu melangkah mendekatiku, kekesalanku semakin memuncak.

Aku memasang wajah kesal. Tidak sulit, panas terik hari ini sudah menghapus senyum dari wajahku. Hanya tinggal menambah pandangan sinis di mataku, maka lengkaplah penampilanku sebagai ratu judes. Ya, itu memang julukanku di kelas. Junior-juniorku pun akan mengkerut takut saat aku mendekati mereka dengan wajah seram di hari pertama perkuliahan. Read more »

My Blueberry Nights

Posted in resensi with tags on June 25, 2008 by mightylesthi

sebenarnya, tulisan tentang film ini ingin saya posting beberapa minggu yang lalu. Tapi, tumpukan pekerjaan dan deadline menghadang, membuat saya mesti menahan diri. Maka jadilah baru hari ini, saya mengetiknya. Inipun ditengah-tengah tulisan tentang Amy Atmanto yang sedang saya kerjakan.

Saya pertama kali mendengar tentang film ini dari seorang teman, dia bilang it’s a must see movie. Lalu dia pun bercerita tentang jalan ceritanya yang sederhana tapi memikat. Pertanyaan saya hanya satu. Siapa yang main? dia menjawab Norah Jones dan Jude Law. Nah, dari situ sudah bisa ditebak bukan, siapa yang menarik perhatian saya? tentu saja Jude Law, aktor ganteng yang berlogat britain nan seksi. Saya pun antusias. “Pinjem DVD-nya doung” ucap saya.

Tapi sial, saya memang pelupa akut. DVD itu terus terlupakan, hingga akhirnya, di kamar kos ada beberapa DVD baru yang dibeli teman sekamar saya. Salah satunya film itu, My Blueberry Nights. Saya pun bersemangat menontonnya. Read more »

hujan, kala itu

Posted in puisi with tags on June 13, 2008 by mightylesthi

malam semakin jauh
gelap pun bertambah pekat
di ruang itu
aku ditemani sepi

tawa terdengar jauh
riuh hanya sayup
suara menyaru bisikan
hanya rintik hujan yang merambah sunyi
aku kembali sendiri
merayapi kelam

sayang, aku merindu…

Sang Pemimpi

Posted in resensi with tags on June 13, 2008 by mightylesthi

Tuntas. Tadi malam, saya sudah menuntaskan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Walaupun saya lebih menyukai novel pertamanya, yang hadir begitu kaya warna, Sang Pemimpi tetap memiliki magnet tersendiri. Seperti sebelumnya, Andrea berhasil menyihir dengan kata-kata. Mengikat jiwa saya dan memaksanya masuk ke dalam cerita. Ikal dan Arai menari-nari di benak saya. Membuat bibir tersenyum mengikuti perjalanan mereka, terkadang terkekeh akibat ulah ajaib yang mereka perbuat. Tak jarang pula batin teriris. Pedih. Menyadari betapa sulitnya menggenggam sebuah cita-cita yang jauh tinggi mengangkasa.

Tapi, bukankah ada papatah yang mengatakan “Apa yang kamu percayai bisa terwujud, akan terwujud”? Dan itu yang terjadi pada dua anak kampung Belitong, nun jauh di Timur Indonesia. Kerasnya mereka berusaha menggapai cita membuat merinding. Hidup di kota dengan segala kemudahan, memang bisa membuat terlena. Lupa akan cita-cita yang dulu menggelegak dalam dada. Berbeda dengan anak kampung yang lebih teguh memegang harapan. Jujur, saya tertampar.

Read more »

Laskar Pelangi

Posted in resensi with tags on June 12, 2008 by mightylesthi

Subuh tadi, tepatnya pukul 04.00, saya baru saja menyelesaikan novel pertama dari tetralogi Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Jujur, saat novel tersebut terbit, saya sempat skeptis. Waktu itu, tiba-tiba banyak bermuncul novel berbau islami. Saya pikir, Laskar Pelangi hanyalah salah satu dari novel-novel itu. Agamais, sekuler, sebutlah apa itu. Intinya, saya menjadi tidak tertarik.

Tahun demi tahun berlalu. Setiap saya ke gramedia, maupun toko buku lainnya, Laskar Pelangi tetap bercokol di rak best seller. Malah, dia tidak lagi sendirian, ada Sang Pemimpi. Novel lanjutannya. Melihat cover sang pemimpi, mau tidak mau saya tertarik. Bukan karena apa-apa, sampulnya kelabu. Itu saja. Warna yang saya sukai. Gelap dan dingin. Tangan saya pun gatal dan meraihnya. Membaca nama pengarang dan sinopsis di baliknya. Sekilas, nama Andrea Hirata itu terkesan akrab, lalu hilang dalam sel-sel otak saya yang berantakan.

Yah, seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi pun hanya singgah sebentar di tangan, lalu saya kembalikan ke tempatnya. Rak best seller tadi. Setelah itu, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Andrea Hirata, pun dengan novel-novelnya.

Lalu suatu pagi, di kantor, dua rekan saya sibuk berdiskusi. Waktu itu siang, saatnya mereka deadline. Tapi keduanya tampak asyik, tertawa-tawa, dan mengeluarkan celetukan-celetukan aneh, yang ternyata mereka kutip dari sebuah buku. Saya pun penasaran, menghampiri mereka dan bertanya.

Read more »

Di Ujung Senja

Posted in untai kata on June 8, 2008 by mightylesthi

Hujan. Aku melihat rintik air menetes di jendela. Rasanya sebal. Hujan menahanku pergi. Padahal aku harus ke stasiun. Aku harus menemukan dia. Orang yang telah mencuri hatiku. Tapi, derasnya hujan dan keras petir yang menyambar, membuatku urung. Aku pun hanya bisa terdiam. Memandangi jendela dan tetes air yang mengalir.

Seperti kebiasaanku sebelum menuju stasiun. Aku memenuhi kepalaku dengan berbagai skenario. Bagaimana aku harus bersikap saat bertemu dengannya nanti. Tapi saat memandang hujan, semuanya mendadak kosong. Tidak ada apa-apa lagi, hanya tetesan air hujan yang tertinggal.

Pikiranku pun mengembara. Kembali ke masa lalu. Di saat aku melihat senyuman itu untuk pertama kalinya. Read more »